Rabu, 14 Desember 2011

Aliran Maitreya ? Buddhis atau Non-Buddhis ?



Telaah Kritis dan Obyektif atas Aliran Maitreya 

APAKAH SANG Buddha MASA MENDATANG TELAH HADIR DI DUNIA INI? 

PENGANTAR

Belakangan ini di negeri kita dimarakkan oleh suatu aliran keagamaan
yang menamakan dirinya Maitreya, yang dalam Bahasa Mandarin disebut
dengan Yi Guan Dao (baca I Kwan Tao). Sesungguhnya sebagai seorang
Buddhis kita dapat menghormati agama dan aliran apapun, sebagaimana
yang diajarkan Sang Buddha dalam UPALI SUTTA, namun yang menjadi
masalah aliran ini telah mendompleng nama Buddhisme dalam  penyebarannya.

Dalam makalah kali ini kita akan membahas benarkah aliran Maitreya
dapat digolongkan pada Buddhisme dan apabila tidak apakah alasannya.
Mengingat perkembangan aliran ini yang demikian pesatnya. Berdasarkan
pengalaman penulis semasa masih tinggal di Jakarta, pada hampir tiap-
tiap perumahan terdapat cetiya (mereka menyebutnya dengan istilah
Mandarin: Fo Tang [baca: Foo Dang]) aliran tersebut.

Selain itu kita juga akan membahas gerakan-gerakan keagamaan yang
serupa dengan Maitreya pada sepanjang sejarah Tiongkok untuk menarik
keterkaitannya dengan Aliran Maitreya.

Makalah ini juga tidak dimaksudkan untuk menjelek-jelekkan ataupun
menghina aliran Maitreya, melainkan untuk mendudukkan permasalahan
pada proporsinya yang benar. Bagi rekan-rekan Buddhis diharapkan agar
mendapatkan pengertian yang benar mengenai apa itu sesungguhnya
Aliran Maitreya tersebut. Selamat membaca.

A.SEJARAH.

1.Ciri Khas Umum Aliran-Aliran Sesat dalam Sejarah Tiongkok.

Negeri Tiongkok merupakan tempat yang subur bagi perkembangan berbagai
aliran bidaah atau menyimpang, baik yang berakar dari Taoisme maupun
Buddhisme. Sebelum kita menganalisanya satu persatu, maka baiklah kita
menarik terlebih dahulu ciri-ciri umum aliran-aliran tersebut:

(i).Berawal dari gerakan pemberontakan untuk menggulingkan suatu
dinasti atau pemerintah yang saat itu sedang berkuasa.

(ii).Para pemimpinnya mengaku titisan dewa tertentu (bagi yang
berlatar belakang Taoisme) dan titisan Bodhisattva tertentu (bagi yang
berlatar belakang Buddhis). Dalam propagandanya mereka
mengatakan bahwa dinasti yang sedang berkuasa telah terlalu bobrok dan
mereka telah menerima mandat surgawi untuk berkuasa menggantikan
pemerintahan yang lalim pada saat itu.

(iii).Bagi aliran sempalan yang berlatar belakang Buddhis, Bodhisattva
yang banyak dipilih adalah Maitreya. Jadi banyak pemimpin sekte atau
pemberontakan yang berasal dari kalangan Buddhis mengaku bahwa diri
mereka adalah penjelmaan Maitreya.

(iv).Pemberontakan diawali dengan membentuk suatu sekte rahasia untuk
mengumpulkan para pengikut. Agar menarik minat rakyat jelata maka
kadang-kadang dibumbui dengan mistik. Para anggota disumpah dengan
ritual khusus, yang juga timbul saat ketidak puasan merajalela di
kalangan rakyat.

Baik marilah kita mulai membahas sejarah aliran-aliran sesat di
Tiongkok mulai dari jaman yang paling awal hingga pada timbulnya
aliran Teratai Putih (Bai Lian, baca: Pai Lien) yang merupakan cikal
bakal Yi Guan Dao.

2.Sejarah Aliran-Aliran Sesat dalam Sejarah Tiongkok.

a.Dinasti Han (202 SM ? 221M)

Marilah kita kembali pada masa akhir Dinasti Han pada abad ketiga
Masehi. Pada saat itu kekuasaan Kaum Kasim menjadi semakin besar,
sehingga kaisar hanya menjadi boneka mereka saja. Mereka sangat lalim
dan korup sehingga Dinasti Han menjadi lemah.
Ketidakpuasan merebak di kalangan rakyat, di mana hal tersebut
berpuncak pada Pemberontakan Topi Kuning (Huang Qin) pada tahun 184 M

(i). yang dipimpin oleh tiga bersaudara bermarga Zhang. Pemimpin
utamanya bernama Zhang Yue (Thio Kak dalam lafal Hokkian)

(ii). Zhang Yue merupakan seorang mahasiswa ilmu ketabiban yang gagal,
namun ia memiliki kemampuan mengobati orang. Banyak rakyat yang
disembuhkan olehnya dari berbagai penyakit sehingga mereka kemudian
tertarik untuk menjadi pengikutnya. Legenda mengatakan bahwa kemampuan
pengobatan tersebut diperolahnya dari seorang dewa bernama Nan Hua Lao
Shen (Hokkian: Lam Hoa Lo Sian) atau dewa tua dari pegunungan Lam Hoa
yang memberikannya sejilid kitab ilmu pengobatan.

Di depan massa pengikutnya Zhang Yue berpidato bahwa pamor kerajaan
Han telah pudar dan ia telah ditakdirkan untuk menggantikannya, oleh
sebab itu ia mewajibkan para pengikutnya untuk mengenakan topi atau
penutup kepala berwarna kuning, yang melambangkan keunggulan
gerakannya dari Dinasti Han

(iii). Ia juga membagi-bagikan jimat (hu) pada para pengikutnya agar
mereka menang perang. Mereka kemudian bergerak ke ibu kota dan
berhasil menimbulkan kepanikan dan kerusakan besar pada Dinasti Han,
namun akhirnya pemberontakan ini berhasil ditumpas.

b. Dinasti Sui (589-618)

Pada bulan Januari 610 AD, sejumlah orang berpakaian warna putih
dengan rambut diikat pita putih dan tangan memegang kemenyan yang
membara serta bunga-bunga, mengumumkan datangnya Maitreya Buddha ke
dunia ini dengan mengadakan prosesi menuju kota Chian Kuok dan pada
saat mereka hendak memasuki pintu Chian Kuok, pengawal di pintu
menyambut kedatangan mereka dengan berlutut dan mempersilahkan mereka
masuk.

Tetapi ketika mereka sedang berlutut, orang-orang saleh palsu
(bandit-bandit) itu merampok senjata-senjata mereka dan ketika
tindakan ini hampir mengakibatkan kerusuhan, bantuanpun datang untuk
menaklukkan bandit-bandit tersebut. Orang-orang yang terlibat dalam
pemberontakan ditangkap. Jumlah yang tertangkap mencapai kira-kira
seribu keluarga.

Tiga tahun kemudian pada bulan Desember 613 AD, seorang yang bernama
Siang Hai Ming menyatakan dirinya sebagai reinkarnasi Maitreya Buddha,
mengumpulkan penganut-penganut dan melancarkan pemberontakan dan
mengangkat dirinya sebagai raja, dan pada akhirnya membangun satu
kerajaan di Pei Wu. Setelah beberapa saat, Raja dari Dinasti Sui
mengirimkan pasukan untuk menaklukkan dia.

c. Dinasti Tang (618-906)

Pada zaman Dinasti Tang, ada lagi seorang saleh palsu yang bernama
Wang Hwai Koo mengumumkan suatu berita yang keliru yakni Sakyamuni
Buddha telah mengundurkan diri dan telah digantikan oleh Maitreya
Buddha, dan bahwa keluarga Li akan runtuh sedangkan keluarga Yang akan
bangkit lagi. Li adalah marga dari Raja pertama Dinasti Tang dan Yang
adalah marga dari Raja pertama Dinasti Sui. Pemerintah mendengar kabar
itu segera mengirimkan pasukan untuk bertempur dengan kelompok Wang
Hwai Koo. Wang Hwai Koo dan pengikut-pengikutnya ditangkap dan dihukum
mati.

Tokoh lain pada masa Dinasti Tang yang juga mengaku sebagai penjelmaan
Maitreya adalah Ibu Suri Wu Zetian (Hokkian: Bu Cek Tian).
Ia memerintah dari tahun 690-705. Setelah suaminya Kaisar Gao Zong
(649-683) wafat, ibu suri Wu perlahan-lahan berusaha untuk meraih
kekuasaan, hingga akhirnya berhasil menumbangkan Dinasti Tang untuk
sementara waktu dan menjadi kaisar. Ratu Wu sebagai alat propaganda
kemudian memanfaatkan Agama Buddha dan Tao agar rakyat menganggapnya
sebagai makhluk suci (padahal Ratu Wu sangat kejam karena telah
menyiksa sampai mati para selir suaminya terdahulu).

(iv). Dari Kalangan Tao ia menerima gelar "Ibu para Dewa" (Bahasa
Inggris: Sage Mother) atau Lao Mu dan dipuja pada kuil-kuil Taois.
Untuk meraih simpati Umat Buddha dikaranglah pada saat itu suatu Sutra
palsu yang berjudul Sutra Awan Agung (Great Cloud Sutra) yang isinya
seolah-olah Buddha Sakyamuni telah menubuatkan bahwa Maitreya atau
Buddha yang akan datang akan terlahir sebagai wanita, yang di bawah
pemerintahannya "Panen akan berlimah, kebahagiaan akan menjadi tak
terhingga. Rakyat akan berjaya, terbebas dari penderitaan dan
penyakit. Para penguasa dari negara-negara tetangga akan berdatangan
dan menawarkan diri untuk menjadi taklukan." Vihara-vihara yang
disponsori negara bersama-sama mempermaklumkan ajaran baru ini dan
menggelarinya "Maitreya yang tanpa cela". Wu kemudian memerintahkan
dipahatnya patung Maitreya raksasa di Longmen yang wujudnya mirip  dirinya.

d. Dinasti Sung (960-1279). 

Pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zong (1022-1063), bulan November 
1047, pemimpin dari Aliran Maitreya Wang Tzeh merencanakan suatu 
pemberontakan. Pada mulanya dia adalah seorang gembala kemudian dia 
mendaftarkan diri menjadi tentara. Sementara itu buku ajaran-ajaran 
sesat telah beredar ke-mana-mana. Buku tersebut memuat pernyataan 
jahat yang sama yaitu "Sakyamuni Buddha telah mengundurkan diri dan 
Maitreya Buddha yang bertanggung jawab atas urusan manusia di dunia. 
Mereka mengeluarkan slogan bahwa Zaman Putih "istilah Bahasa Cina 
adalah Pai Yang" telah tiba. 

Ketika Wang Tzeh menjadi walikota, penganut-penganutnya mengangkat dia 
sebagai pemimpin mereka dan kemudian melancarkan pemberontakan di 
propinsi Pei. Wang Tzeh memproklamirkan dirinya sendiri sebagai Raja. 
Pada tahun baru di bulan Pebruari 1048, pasukan-pasukan raja 
menyelinap ke dalam kota melalui terowongan. Wang Tzeh ditangkap dan 
dihukum mati. 

e. Dinasti Yuan (Mongol) (1279-1368). 

Orang-orang kerajaan Mongol menghormati segala agama: Buddha, Kr*st*n, 
Isl*m dan Taoisme. Tetapi melarang Aliran Maitreya. Di antara agama 
yang disebut di atas, agama Buddhalah yang mendapatkan penghargaan 
tertinggi, khususnya oleh keluarga raja, sehingga agama Buddha 
mendapat fasilitas khusus dan juga mendapatkan fasilitas bebas pajak. 
Oleh karena itu, penganut-penganut Maitreya merembes ke perkumpulan 
Bai Lian yang dibentuk oleh Master Hwei Yen. Pengembangan utama bagi 
sekte ini dititik beratkan pada pembacaan nama Amitabha Buddha. 
Setelah 5 tahun berada di perkumpulan Bai Lian, nama Maitreya menjadi 
Perkumpulan Bai Lian (sesuai dengan nama organisasi yang mereka 
nyusupi). 

Mereka menjalin hubungan baik dengan pegawai-pegawai pemerintah dan 
juga orang-orang berpengaruh di masyarakat. Selain itu, mereka juga 
ber-pura-pura melakukan kegiatan sosial. Dengan cara demikian, secara 
bertahap mereka menjadi sah dalam hukum pemerintahan, tetapi 
pengesahan tersebut bertahan hanya 9 tahun. Ketika Raja Shidebala 
(Ying Zong) naik tahta pada tahun 1321, beliau melarang aliran itu. 
Pada saat itu, situasi politik sedang memburuk dan Aliran Maitreya 
mengambil keuntungan dari situasi tersebut untuk menyebarkan ajaran 
yang menyimpang. 

Hampir tiga tahun kemudian (1323), Raja Ying Zong dibunuh. Dua puluh 
delapan tahun setelah beliau wafat atau pada masa pemerintahan Raja 
Toghon Temur (Shun Di ? memerintah 1333-1368) yakni pada bulan Mei 
1351, penganut-penganut Bai Lian, dengan Liew Foo Thong sebagai dalang 
utama dan Han San Thong sebagai pemimpin, merencanakan untuk 
memberontak melawan Dinasti Yuan dan memproklamirkan dirinya sebagai 
King Ming. Ciri-ciri tentara mereka adalah membakar kemenyan dan 
pengikut-pengikutnya mengikat kepala mereka dengan syal merah. Karena 
itulah pemberontakan ini dalam sejarah dinamakan Pemberontakan Ikat 
Kepala Merah (Red Turban). Tetapi rencana pemberontakan tersebut 
bocor, Han San Thong tertangkap dan dihukum mati. Istri dan anak 
lelakinya, Han Lin Er meloloskan diri. Pengikut-pengikut yang 
melarikan diri dikumpulkan oleh Liew Foo Thong untuk membentuk suatu 
tentara yang berjumlah ratusan ribu orang. Tentara tersebut menyerbu 
dan menaklukkan propinsi Ing Chuan. 

Pada bulan Februari 1355, Liew Foo Thong memproklamirkan Han Lin Er 
sebagai Raja Ming kecil. 

Pada bulan Januari 1352, seorang penganut Bai Lian yang kaya, Kuo Tze 
Hsing, juga mengumpulkan penganut-penganut untuk bekerja sama dengan 
Han Lin Er. Kuo menyatakan dirinya sebagai Jenderal. Pada tanggal 26 
Februari, tentaranya menaklukkan propinsi Hau Chou. 

Pada bulan Maret tahun yang sama, Zhu Yuanzhang (Hokkian: Cu Goan 
Ciang) bergabung dengan mereka sebagai bawahannya. Zhu telah menjadi 
rahib sejak kecil. Dia meninggalkan Sangha untuk menjadi seorang awam 
karena kuti di mana dia tinggal telah dibakar. Zhu mempunyai 
penampilan yang tampan dan tubuhnya tegap. Selain itu, dia selalu 
menang dalam peperangan. Kuo Tze Hsing begitu terkesan sehingga dia 
mengangkat Zhu sebagai menantu laki-laki. 

Tiga tahun kemudian, Kuo meninggal dan putranya Kuo Thien Shih menjadi 
pemimpin. Han Lin Er mengangkat anak Kuo sebagai panglima, Chang Thien 
Yew dan Zhu sebagai Jenderal pertama dan kedua. Enam bulan kemudian, 
Kuo Thien Shih dan Chang Thien Yew dibunuh. Akibatnya semua tentara 
berada di bawah perintah Zhu Yuanzhang. 

Pada bulan Februari 1363, Liew Foo Thong dibunuh dan Han Lin Er dengan 
cepat mengirim berita kepada Zhu untuk meminta bantuan segera. 
Bantuan diberikan segera dan Han Lin Er diselamatkan. Sejak itu Han 
Lin Er menjadi boneka Zhu Yuanzhang. Pada bulan Desember 1366, atas 
nama untuk menyambut kedatangan Han Lin Er ke selatan, Zhu mengirim 
satu kapal untuk menjemput Lin Er. Dalam perjalanan, Zhu memerintahkan 
orang membalikkan kapal tersebut dan Lin Er tenggelam, tentu saja Zhu 
Yuanzhang menjadi pengganti. 

Supaya bisa menghibur mereka, Zhu pada tanggal 4 Januari 1368 
mengumumkan "Ming" sebagai nama rezimnya. Dengan demikian, dia menjadi 
Raja pertama Dinasti Ming. Inilah untuk pertama kalinya suatu 
pemberontakan sekte rahasia berhasil mengangkat pemimpinya menjadi 
kaisar. Zhu lalu bergelar Hong wu dan memerintah dari tahun 1368-1398. 

f. Dinasti Ming (1368-1644) 

Berhubung Raja Choo Yen Zang pernah menjadi bhikkhu, dia amat paham 
tentang isi dari agama Buddha. Oleh karena dia sadar bahwa 
penganut-penganut Bai Lian telah mengambil dan kemudian merubah 
Buddhadharma sesuai pemikiran mereka. Mereka menggunakan nama aliran 
Maitreya Buddha hanya sebagai topeng untuk menipu orang-orang yang 
tidak mengerti latar belakang mereka. 

Setelah Zhu naik tahta menjadi raja dia mengeluarkan perintah melarang 
aktivitas dari aliran Bai Lian. Sejak itu, pengikut ajaran Bai Lian 
mengajarkan ajaran sesatnya pada malam hari saja dengan pintu dan 
jendela tertutup rapat. 

Pada zaman Dinasti Ming, kerajaannya paling banyak menderita karena 
pemberontakan Bai Lian yang sangat sering terjadi. Banyak dari 
pemberontakan ini terjadi ketika negara tersebut sedang dalam 
kehancuran dan lelah dalam menghadapi perang dengan penyerang dari 
luar negeri. Berikut adalah beberapa pemberontakan terkenal yang 
tercatat dalam sejarah: 

1.Pada tahun 1373 Pheng Phu Kui, pengikut Bai Lian dari SheChuan 
mengumpulkan orang-orang, menyerang dan menjajah 14 kota secara 
berturut-turut dan pemerintah menghabiskan waktu beberapa bulan untuk 
menaklukkan mereka. 
2.Zin Kang Nu dan Tien Chiew Cheng berontak pada saat negara sedang 
kalah perang dengan Vietnam. 
3.Thang Sai Er mengambil keuntungan dari kesempitan ketika Jepang 
sedang mengganggu Liaw Tong yang terletak di timur laut China. 
4.Ketika ada ancaman dari Manchuria dan keluarga raja sedang mengalami 
keributan dalam kerajaan, Chao Ik San, atas nama Maitreya Buddha 
mengumumkan dirinya sebagai raja dan berontak melawan pemerintah. 
5.Wang Hsing and Chee Hong Joo paling terkenal dengan nama buruknya 
dan memiliki tentara yang terbesar. Pada saat keluarga raja dan rakyat 
pada umumnya sedang panik karena Manchuria sudah masuk perbatasan 
China dan telah menaklukkan 40 kota di Liaw Tong, Wang Hsing and Chee 
Hong Joo memimpin 2 juta tentara, menyerang dan menjajah kota-kota 
besar di propinsi Shantong dan bahkan mencuri alat transportasi 
pemerintah yang membawa makanan. Supaya dapat bertempur dengan tentara 
yang begitu besar, pemerintah terpaksa mengirimkan tentara di Liaw 
Tong. Ini berarti tentara Bai Lian memberikan bantuan besar kepada 
tentara Manchuria. 

Di antara penganut-penganut Bai Lian yang terkenal, terdapat seorang 
wanita, Tang Sai Er, yang memiliki ilmu hitam. Dia berkata bahwa dia 
telah memperoleh sebuah buku dari surga di mana buku tersebut 
diketemukan dari dalam batu besar. Dengan buku tersebut dia bisa 
menguasai roh-roh dan dewa/dewi dan bisa mendapatkan pakaian maupun 
makanan yang ia inginkan. 

Beribu-ribu orang awam, karena terpesona oleh ajaran sesatnya, 
mengikuti dia. Pada satu pertempuran dengan tentara kerajaan, Tang Sai 
Er menggunakan ilmu hitam untuk melindungi dirinya. Banyak roh-roh 
yang tampangnya mengerikan muncul di langit. Karena tahu bahwa Tang 
Sai Er mungkin akan menggunakan ilmu hitam, jenderal kerajaan itu 
membawa sedikit darah yang kemudian disiramkan ke roh-roh yang tampak 
itu. Dengan segera, roh-roh yang mengerikan tersebut berubah 
menjadi manusia-manusia dan kuda-kuda kertas. Sai Er berhasil 
meloloskan diri tetapi kemudian tertangkap. Dia dirantai dan dikirim 
ke ibukota dengan menggunakan kereta tahanan. Tetapi, dalam 
perjalanan, dengan kekuatan ilmu hitam, Sai Er berhasil bebas dari 
belenggu rantainya dan menghilang. Sejak saat itu dia tidak pernah 
diketemukan lagi. 

Ilmu hitam Tang Sai Er diperkirakan diwariskan ke generasi berikutnya. 
Pada tahun 1557, terdapat seorang yang bernama Ma Cu She di mana 
dengan ilmu hitamnya dapat membuat prajurit kertas menjadi seperti 
prajurit yang sebenarnya. Pada saat prajurit kertas itu diserang, ia 
akan berbalik menyerang dan melukai penantangnya, meskipun begitu, 
ketika rencana pemberontakan Ma Cu She diketahui oleh pemerintah, 
pemerintah segera mengirim tentara untuk menaklukkan Ma Cu She dan 
pengikutnya. Diperkirakan lebih dari 100 orang pengikutnya mati dalam 
medan peperangan, tetapi Ma Cu She sendiri berhasil lolos dari maut.
Pemimpin Kedelapan Yang Palsu 

Pada zaman Dinasti Ming, terdapat seorang pengikut Bai Lian yang 
paling jahat dalam sejarah di Cina. Ajaran sesatnya mempunyai pengaruh 
yang paling dalam dan luas terhadap pengikut-pengikutnya sampai saat 
ini. Nama orang itu adalah Lo Wei Ching, lahir pada tanggal 8 Januari 
1446. Dia mengatakan bahwa Sesepuh Hui Neng adalah merupakan pemimpin 
Sangha yang terakhir, karena Jalan ke Surga telah berubah dari sistim 
kepemimpinan Sangha menjadi sistim kepemimpinan orang awam. Dia 
merekayasa sebuah cerita bagaimana dia menerima garis kepemimpinannya 
sebagai berikut: 

Seseorang yang bernama Pai Ik Chan menyelamatkan Sesepuh Ke-6 yang 
sedang dikejar oleh seorang bhikkhu kejam di ladang. Oleh karena itu, 
Pai Ik Chan diberikan baju dan mangkok sebagai bukti penerimaan garis 
keturunan pemimpin. Selama 3 tahun, Sesepuh ke-6 sembunyi di rumahnya. 
Kemudian Pai Ik Chan dan seorang guru besar Tao Ik dinobatkan bersama 
sebagai pemimpin ke-7. Ini benar-benar merupakan kebohongan yang besar 
dan menggelikan. 

Penjelasan yang benar adalah Sesepuh ke-6 lahir pada tanggal 8 
February 638, sedangkan Pai Ik Chan lahir tahun 1194 pada jaman 
Dinasti Sung, sehingga ada perbedaan waktu 450 tahun. Maka itu, 
bagaimana dia bisa menyelamatkan Sesepuh ke-6? Kecuali waktu bisa 
berputar kembali. Guru Pai Ik Chan yang bernama Ma Tao Ik adalah cucu 
murid dari Sesepuh ke-6 dan lahir sedikitnya 400 tahun sebelum Pai Ik 
Chan. Oleh karena itu, bagaimana Pai Ik Chan bisa bertemu dengan 
pemimpin ke-6 sebelum guru dia Ma Tao Ik? Selain itu, Lo Wei Ching 
adalah orang yang hidup pada zaman Dinasti Ming, lahir beberapa ratus 
tahun setelah Pai Ik Chan, bagaimana Pai Ik Chan menyampaikan 
"Jalannya" kepada Lo Wei Ching? 

Seperti yang tertulis dalam sejarah agama Buddha, garis keturunan dari 
kepemimpinan berakhir pada Sesepuh ke-6 Hui Neng. Sistim kepemimpinan 
ini diteruskan ke Cina dari India oleh pemimpin Bodhidharma. Dia 
adalah Sesepuh pertama di Cina dan juga sebagai pendiri sekolah Zen di 
Cina. Sebelum meninggal, beliau mengatakan bahwa sistim kepemimpinan 
Zen akan berakhir pada Sesepuh ke-6. Sejak itu, hanya Dharma yang akan 
berputar, kain dan mangkok tidak merupakan tanda kepemimpinan. 

Berikut ini adalah ajaran sesat yang dipelopori oleh Lo Wei Ching: 

-Dia merupakan pendiri dari sistim kepemimpinan umat awam. Dia 
mengatakan bahwa "Jalan Surga" telah berubah dari sistim kepemimpinan 
Sangha menjadi sebuah sistim yang dikendalikan oleh umat awam 
(penerjemah: maksudnya tidak ada lagi Sangha dalam ajaran mereka). 

-Dia memulai semboyan bahwa "Tiga agama menjadi satu". Ketiga agama 
itu adalah Juisme (ajaran kuno di Cina), Taoisme dan Buddhisme. 

-Dia mengarang cerita bahwa Tuhan yang bernama Lao Mu ada di Surga Wu 
Zhi. Segala makhluk diciptakan olehNya. 

-Sejak terbentuknya Aliran Maitreya (Yi Guan Dao), selalu ada 
pernyataan bahwa sistim dunia terbagi menjadi 3 periode yakni Periode 
Hijau, Periode Merah dan Periode Putih. Periode Putih ini merupakan 
periode akhir zaman yang menurut mereka dunia akan kiamat pada periode 
ini. 

Lukisan tentang dunia kiamat oleh mereka sbb : Akan terjadi malapetaka 
angin, hembusan angin begitu kuat sehingga orang hanya akan mendengar 
"bum?" bagaikan surga akan ambruk dan bumi akan retak, dan hanya 
sekejap mata segala sesuatu benda musnah, tak satu makhlukpun yang 
terlihat. Mereka membuat cerita dunia kiamat dengan menjiplak teks 
ajaran Buddha dan kemudian melakukan banyak pengubahan-pengubahan. 

Menurut teks agama Buddha, periode waktu antara pembentukan alam dunia 
dihitung berdasarkan tiga kalpa: Kalpa Kecil, Kalpa Sedang dan Maha 
Kalpa. Aliran Yi Guan Dao (Aliran Maitreya) mengubah nama kalpa 
menjadi Periode. Sebenarnya teks agama Buddha mengatakan bahwa dunia 
akan musnah total pada akhir Maha Kalpa yang akan tiba pada trilliun 
tahun mendatang. Mereka mengatakan bahwa akhir kalpa akan segera 
datang supaya dapat membuat orang-orang menjadi panik dan masuk aliran 
sesat tersebut. 

Berdasarkan ajaran ini Lo Wei Ching selanjutnya menyatakan bahwa pada 
akhir Periode Putih (penerjemah: maksudnya akhir zaman), Tuhan mereka 
"Lao Mu" akan turun ke dunia membawa kembali 96 milyard anak-anak 
sejati ke sisiNya. Anak-anak ini akan menikmati kekayaan dan 
kemakmuran di surga sesuai dengan perbuatan baik mereka (pengertian 
perbuatan baik disini adalah dedikasi yang dalam kepada Aliran 
mereka). 

Agar dapat mengendalikan pengikut-pengikutnya, Lo mengeluarkan 
peraturan bahwa orang-orang yang mencari "Jalan Surga" harus bersumpah 
kepada Tuhan Lao Mu. Sumpah-sumpah itu sangat kejam dan berbunyi 
sebagai berikut: 

-Seorang tidak boleh mencari "Jalan Surga" dengan pura-pura 
-Seseorang tidak boleh mundur ketika diminta untuk maju 
-Seseorang tidak boleh membocorkan rahasia aliran, karena tindakan itu 
akan mengakibatkan tertangkapnya pemimpin dan kematian dari pemimpin 
aliran tersebut. 
-Seseorang tidak boleh tidak sopan kepada "Chien Jen" yakni gelar yang 
diberikan kepada pejabat tinggi dalam aliran itu. Chien Jen memegang 
jabatan "orang kedua" dalam aliran tersebut. (Jumlah Chien Jen sangat 
sedikit, tetapi selain pemimpin tertinggi mereka "She Mu" mereka 
memegang kekuasaan tertinggi dan disanjung oleh pengikut-pengikut 
mereka, dan saat mereka tiba ataupun pergi selalu diiringi tata cara 
yang khidmat seperti yang biasa dilakukan terhadap keluarga kerajaan 
atau pejabat kerajaan yang berpangkat tinggi). 
-Seseorang tidak boleh menganggur tanpa melakukan penyebaran ajaran 
mereka dengan penuh semangat. 

Siapa saja yang melanggar salah satu dari peraturan-peraturan tersebut 
di atas akan disambar halilintar dan dibakar lima kali. 

Dalam agama Buddha, terdapat satu hal yang amat penting yaitu 
Triratna: Buddha, Dharma dan Sangha. Maka untuk menandingi Triratna 
agama Buddha, Lo Wei Ching menciptakan Triratna versi dia sbb: 

-Menunjuk "Hsien Kuan" yaitu menunjuk bagian tengah dahi di antara 
kedua alis mata dengan menggunakan jari tengah oleh seorang pandita 
mereka yang disebut Tien Chuan She 
-Memberitahukan kode lisan yang terdiri dari 5 kata: Wu, Thai, Fu, Mi, 
Nek. 
-Mengatupkan tangan dengan cara-cara tertentu 

Seseorang yang ingin menjadi anggota baru harus mendapat rekomendasi 
dari dua orang anggota lama. Tetapi orang cacat, tukang jagal, 
pelacur-pelacur, preman-preman dan gelandangan-gelandangan tidak 
diterima sebagai penganut. 

Pada tahun 1527, usaha Lo Wei Ching untuk menggulingkan rezim itu 
gagal. Dia ditangkap dan kemudian dihukum mati dengan cara tubuhnya 
ditarik dan dikoyak oleh 5 kereta kuda. 

Kode Lisan 
Lima kode lisan yaitu Wu, Thai, Fu, Mi, Nek dikatakan sangat membantu 
dalam keadaan bahaya. Tetapi kode lisan ini tidak dapat dibocorkan 
kepada siapapun, bahkan orang tua sendiri, suami dan isteri atau anak 
mereka jika mereka bukan anggota. Pada zaman Dinasti Qing, lima kata 
itu dirubah lagi menjadi: Min, Ta, Pao, Sin, Ik. Tetapi kode ini 
dirubah kembali menjadi kode yang semula, ketika Dinasti Qing runtuh 
dan menjadi Republik. 

g. Dinasti Qing (Manchu) (1644-1911). 

Pada zaman Dinasti Qing, pemberontakan dari aliran Bai Lian (Yi Guan 
Dao) sangat sering terjadi, khususnya pada pemerintahan Raja Qian Long 
(1736-1795) dan Raja Jia Jing (1796-1820). Pada akhir Dinasti Qing, 
yaitu pada tahun ke-18 pemerintahan Raja Jia Jing, nama aliran Bai 
Lian berubah lagi menjadi aliran Tien Li atau kadang-kadang disebut 
aliran Pa Kua. Pada suatu pemberontakan pengikut-pengikut Bai Lian 
gagal dan mereka bubar. Sebagian mereka bertobat dan menjadi bhikkhu 
tetapi yang lainnya tetap setia pada alirannya. Untuk menghindari 
perhatian pemerintah, aliran Bai Lian dibagi menjadi berbagai 
cabang-cabang dengan nama yang berbeda-beda. Aliran "Yi Guan Dao" yang 
ada sekarang merupakan salah satu cabang dari aliran Bai Lian. 

He Liau Ko 
Dia merupakan pemimpin kedua Yi Guan Dao. Dia mulai berontak melawan 
Dinasti Ching pada pemerintahan Qian Long di tahun 1774. Dia adalah 
seorang penghasut dan perencana jahat. Beberapa pemberontakan yang 
terjadi pada masa itu adalah hasil hasutannya. Pada tahun 1795, dia 
melancarkan satu pemberontakan secara besar-besaran yang merusak 
banyak propinsi yakni She Chuan, Hu Pei, He Nan, An Hui, Khan Su dan 
lain-lain. Pemberontakan ini disebut dalam sejarah Cina sebagai 
"Kerusuhan oleh bandit-bandit dari aliran Bai Lian (sekarang disebut 
Yi Guan Dao). 

Wang Jue Yi 
Dia merupakan keturunan dari Wang Hsing yang terkenal dengan 
reputasinya yang buruk pada zaman Dinasti Qing. Pada akhir zaman 
Dinasti Qing, ada organisasi yang memberikan pelatihan tinju yang 
disebut Yi He Tuan (Tuan== bataion) atau disebut Yi He Quan 
(Quan==tinju). 

Organisasi ini berkedok sebagai tempat pelatihan tinju padahal 
organisasi ini Yi He Tuan adalah organisasi militer dengan 
cabang-cabang yang tersebar di berbagai tempat. Wang Jue Yi adalah 
panglima dari organisasi ini. Dengan kata lain, sebenarnya Yi He Tuan 
adalah 
organisasi Pai Lian (sekarang disebut Yi Guan Dao).
Sudah tentu, aliran Pai Lian masih dibawah pengawasan ketat dari 
pemerintah. Usaha pembasmian dari pemerintah terhadap pemberontak Pai 
Lian masih sering dilakukan. Pada saat itu, Ibu Suri Ci Xi ingin 
menggulingkan Kaisar dari tahta dengan tujuan untuk mengalihkan tahta 
kerajaan kepada keponakannya (Kaisar itu adalah anak dari hasil 
perkawinan selir dengan kaisar almarhum), tetapi rencana Ci Xi 
mendapat hambatan yang luar biasa dari pihak asing yang mendukung 
Kaisar. Supaya bisa menangani orang-orang asing tersebut, Ibu Suri 
mengizinkan anggota Yi He Tuan memasuki ibukota. Anggota seperguruan 
tertua (paling senior) yang bernama Chao Fu Thien, bersama dengan 
pemimpin-pemimpin cabang lainnya dipanggil ke istana untuk diberikan 
kehormatan berupa topi dan jubah yang mana hadiah ini hanya boleh 
dipakai oleh pejabat-pejabat tinggi di istana. Ini merupakan yang 
kedua kali dalam sejarah Cina dimana aliran sesat ini disetujui oleh 
pemerintah. Tidak lama setelah aliran Bai Lian masuk ibukota, 
sekretaris Duta Besar Jepang dibunuh dan menyusul peristiwa itu, 
terjadi pembakaran dan pembunuhan secara besar-besaran. Pembakaran dan 
pembunuhan tersebut mengakibatkan pengaruh yang sangat besar dalam 
sejarah yaitu delapan negara asing (yaitu Inggeris, Amerika, Perancis, 
Jepang, Rusia, Austria dan Itali) bergabung dalam membentuk tentara 
sekutu untuk menyerang dan menduduki ibukota Cina. Inilah 
yang dalam sejarah dikenal sebagai Pemberontakan Boxer. 

Setelah kejadian ini, anggota seperguruan tertua Chao Fu Thien, 
ditangkap oleh penduduk sekampung dengan kedua tangan diikat untuk 
diserahkan kepada pemerintah. Chao Fu Thien kemudian dihukum mati. 
Aliran sesat ini kembali mendapat larangan dari pemerintah Cina. 
Dengan kata lain, pengesahan aliran sesat ini hanya bertahan lebih 
kurang sebulan saja. 

h. Republik Cina (1911- sekarang). 

Chang Thian Ran. 
Dia adalah pemimpin ke-18 aliran Yi Guan Dao. Dia dibesarkan di 
keluarga yang menganut aliran Pai Lian selama beberapa generasi. Semua 
pemimpin aliran sesat ini menyatakan dirinya sebagai inkarnasi Buddha 
Maitreya, namum ironisnya, semuanya mempunyai ambisi menjadi kaisar 
dan berakhir dengan kematian tragis. Berdasarkan fakta-fakta yang 
telah disebutkan diatas, maka Chang Thien Ran merubah pernyataan 
"Inkarnasi Buddha Maitreya" menjadi "Manusia Buddha Ci Kong". Dengan 
kata lain, dia menamakan dirinya sebagai Manusia Buddha Ci Kong. 

Chang Thien Ran menyatakan dirinya telah menerima suatu mandat dari 
surga untuk menjadikan dirinya sebagai pemimpin ke-18 Yi Guan Dao.
Dia  menyebarkan doktrin yang sesat sebagaimana pendahulunya melakukan 
yakni "Sakyamuni Buddha telah mengundurkan diri sebagai Lord of 
Buddhism dan Maitreya Buddha telah mengambil alih dalam pembabaran 
Buddhadharma. Disamping doktrin sesat yang telah tersebar luas ini, 
dia juga menyebarkan pernyataan yang menyimpang bahwa zaman di dunia 
ini terdiri dari 3 periode: 

-Periode (zaman) Hijau merupakan periode untuk Dipankhara Buddha 
-Periode (zaman) Merah merupakan periode untuk Sakyamuni Buddha 
-Periode (zaman) Putih merupakan periode terakhir dibawah naungan 
Maitreya Buddha. Dengan kata lain, kalpa sekarang adalah kalpa 
Maitreya Buddha. 

Pada tahun 1946, Chang Thien Ran ditangkap karena menyebarkan doktrin 
sesat yang meracuni pikiran masyarakat setempat bahwa dengan 
menyatakan kode rahasia akan membuat mereka menjadi Buddha dalam 
bentuk manusia. Disamping itu, dia juga bergabung dengan Jepang 
melakukan kerusuhan di ibukota. 

Pada tanggal 13 Agustus 1947, Chang Thien Ran ditembak mati oleh regu 
penembak pemerintah di Cheng Tu, ibukota She Chuan. Tindak 
kejahatannya diterbitkan di koran-koran setempat. Menyusul peristiwa 
ini, pemerintah mengeluarkan larangan keras segala aktivitas Yi Guan 
Dao. 

Setelah kematian Chang Thien Ran, isterinya yang bernama Sun Suk Cen, 
sering dipanggil dengan SheMu (gelar kehormatan untuk isteri guru) 
dijadikan pemimpin tertinggi Yi Guan Dao. Tidak lama kemudian Sun Suk 
Cen datang ke Taiwan dan menjadi pemimpin tertinggi Yi Guan Dao di 
Taiwan. 

3. Sutra-Sutra palsu yang menjadi doktrin Maitreya. 

Sejarah mencatat bahwa Agama Buddha masuk ke Tiongkok pada jaman 
Dinasti Han (202 SM ? 221 M). Masuknya agama asing tersebut telah 
membangkitkan perasaan tidak senang di kalangan agama lain yang lebih 
tua atau asli Tiongkok, seperti misalnya Agama Dao (baca Tao). 
Untuk menunjukkan bahwa Agama Tao lebih unggul maka dikaranglah 
Sutra-Sutra palsu untuk mendukung hal tersebut. Isinya antara lain 
menyebutkan bahwa Sang Buddha hanyalah merupakan salah satu penjelmaan 
Lao tzu (pendiri Agama Tao). Versi lain mengatakan bahwa Lao tzu telah 
menghilang dan pergi ke India. Ia mempertobatkan banyak orang di sana 
dan menjadi Buddha. Ada lagi yang mengatakan bahwa Lao tzu telah pergi 
ke India dan mengajar Sang Buddha ajaran kebijaksanaan. Inti sari dari 
semuanya adalah berusaha membuktikan bahwa Agama Buddha adalah berasal 
dari Agama Tao. 

Salah satu karya semacam itu misalnya adalah Lao-tzu Hua-hu-cing atau 
Sutra Pertobatan Kaum Barbar, karangan seseorang bernama Wang Fu pada 
abad keempat M. (v). Anehnya doktrin yang dianut oleh Aliran Yi Guan 
Dao juga mencerminkan ajaran-ajaran semacam itu. 

B. AJARAN UTAMA. 

Untuk meneliti Ajaran Maitreya dapat membuka website sebagai berikut: 

Bahasa Inggris: 
http://www.taoism.net/gateways/Buddha.htm 
home.kimo.com.tw/yp2758/Eyiguantao.html 
http://www.taoism.net/html.html 

Bahasa Indonesia: 
http://www.buddhismemaitreya.org/ 
http://www.dutamaitreya.org/ 

1.Maitreya telah datang menjelma ke dunia ini dan terlahir sebagai 
guru mereka. 

Umat Buddha Maitreya meyakini bahwa guru mereka adalah penjelmaan 
Buddha Maitreya dan Era Sakyamuni Buddha telah berakhir, jadi mereka 
yakin bahwa Maitreya telah hadir di dunia ini. Namun marilah kita 
perhatikan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha sendiri. 

Kritikan: Mari kita perhatikan apa yang diajarkan oleh Sang Buddha 
dalam CAKKAVATTI-SIHANADA SUTTA, Sutta ke-26 dari DIGHA NIKAYA: 

"Pada saat itu [kota] yang sekarang merupakan Varanasi akan menjadi 
sebuah ibu kota yang bernama Ketumati, kuat dan makmur, dipadati oleh 
rakyat dan berkecukupan. Di Jambudipa akan terdapat 84.000 kota yang 
dipimpin oleh Ketumati sebagai ibu kota. Dan pada saat itu orang akan 
memiliki usia kehidupan sepanjang 84.000 tahun, di kota Ketumati akan 
bangkit seorang raja bernama Sankha, seorang Cakkavati (Raja Dunia), 
seorang raja yang baik, penakluk keempat penjuru?Dan pada saat orang 
memiliki harapan hidup hingga 84.000 itulah muncul di dunia seorang 
Yang Terberkahi, Arahat, Sammasambuddha bernama Metteya?.." 

Jadi saat Metteya (Maitreya dalam Bahasa Sansekerta) hadir di dunia 
ini akan terdapat hal-hal sebagai berikut: 

1.Terdapat kota "megapolis" yang bernama Ketumati. 
2.Terdapat 84.000 kota di Jambudipa. 
3.Terdapat seorang raja bernama Sankha. Beliau seorang Cakkavati atau 
raja dunia. 
4.Manusia dapat hidup hingga mencapai 84.000 tahun 

Nah, pada kenyataannya keempat hal di atas belum terwujud atau belum 
ada. Hingga saat ini usia hidup hingga mencapai 84.000 tahun masih 
merupakan sesuatu yang teramat sangat fantastis dan susah dibayangkan 
manusia. Dapat hidup hingga mencapai usia 100 tahun saja sudah 
merupakan sesuatu yang luar biasa. 

Marilah kita coba pelajari tanda-tanda lainnya sebagaimana yang 
terdapat dalam BUDDHAVACANA MAITREYA BODHISATTVA SUTRA: 

"O, Arya Sariputra! Pada saat Buddha baru tersebut dilahirkan di dunia 
Jambudvipa. Situasi dan kondisi dunia Jambudvipa ini jauh lebih baik 
daripada sekarang! Air laut agak susut dan daratan bertambah. Diameter 
permukaan laut dari ke 4 lautan masing-masing akan menyusut kira-kira 
3000 yojana, Bumi Jambudvipa dalam 10.000 yojana persegi ? persis kaca 
dibuat dari permata lazuardi dan permukaan buminya demikian rata dan 
bersih?" 

Nah, pertanyaannya apakah sekarang kondisi dunia sudah lebih baik dari 
jaman Sang Buddha? Jawabnya belum! Apakah kondisi fisik dunia sudah 
seperti yang digambarkan pada Sutra di atas? Jawabnya juga belum! 
Karena itu jelas sekali Maitreya belumlah terlahir di muka bumi ini 
dan saat ini masih jaman Buddha Sakyamuni. 

2.Jaman Tiga Pancaran 

Umat Buddha Maitreya membagi jaman dalam apa yang mereka sebut dengan 
tiga pancaran. 

(i).Jaman pancaran hijau, Buddhanya adalah Dipankara. 
(ii).Jaman pancaran merah, Buddhanya adalah Sakyamuni. 
(iii).Jaman pancaran putih, Buddhanya adalah Maitreya. 

Sekarang telah memasuki jaman pancaran putih, karena itu ajaran Buddha 
Sakyamuni tidak berlaku lagi. 

Kritikan: Marilah kita pelajari urutan Buddha-Buddha yang telah hadir 
di dunia ini sebagaimana yang tercantum dalam kitab suci Tipitaka: 
BUDDHAVAMSA, yang merupakan bagian ke-14 dari KHUDDAKA NIKAYA 
menyebutkan mengenai 25 Buddha pada masa lampau (dengan menambahkan 
nama 18 Buddha pada daftar 7 Buddha yang terdapat pada Mahapadana 
Sutta): Dipankara, Kondanna, Mangala, Sumana, Revata, Sobhita, 
Anomadassin, Paduma, Narada, Padumuttara, Sumedha, Sujata, Piyadassin, 
Atthadassin, Dhammadasin, Siddhattha, Tissa, Phussa, 
Vipassin, Sikhin, Vessabhu, Kakusandha, Konagama, Kassapa, dan Gotama 
(Sakyamuni). Lalu kalau begitu kemanakah Buddha-Buddha yang telah 
hadir di antara Buddha Dipankara dan Buddha Sakyamuni. Digolongkan 
dalam pancaran apakah Mereka itu? Jelas sekali pengarang ajaran 
Maitreya tidak paham Tipitaka. Mereka tidak menyadari bahwa di antara 
Buddha Dipankara dan Buddha Sakyamuni masih terdapat banyak 
Buddha-Buddha lainnya. Kalau mereka sendiri tidak paham Tipitaka 
bagaimana 
dapat kita mempercayai ajaran mereka?

3.Triratna atau Tiga Mestika (San Bao) ala Maitreya. 

Ada tiga mestika atau San Bao yang diajarkan oleh aliran 
Maitreya: 

(i).Membuka apa yang disebut dengan "pintu suci", yakni suatu titik di 
tengah-tengah alis. Aliran Yi Guan Tao (Maitreya) mengajarkan bahwa 
titik tersebut merupakan titik tempat keluarnya roh yang benar pada 
saat seseorang akan meninggal. 

(ii).Mengatupkan tangan dengan cara tertentu: telapak tangan kanan 
dengan posisi empat jari merapat, kecuali ibu jari, posisi horisontal 
agak mengarah ke bawah menekuk membentuk huruf V dengan telapak bagian 
dalam menghadap ke arah tubuh kita. Telapak tangan kiri dengan 
posisi sama seperti tangan kanan menempel menutupi telapak tangan 
kanan sehingga telapak tangan kanan berada di antara telapak kiri dan 
tubuh kita. Ujung ibu jari tangan kiri menyentuh kuku ibu jari tangan 
kanan, kedua ibu jari posisi horizontal mengarah ke bawah. 

(iii).Lima kata rahasia yang tidak boleh bocor berbunyi: "Wu Tai Fo Mi 
Le." 

Kritikan: Bagi seseorang yang belajar Buddha Dharma, maka tidak 
dikenal istilah "pintu suci" atau tempat keluarnya roh. Lagipula dalam 
Buddhisme tidak dikenal adanya roh yang kekal (atta). Juga 
tidak pernah ada yang namanya mengatupkan tangan ala Maitreya dan lima 
kata rahasia tersebut. Yang menjadi pertanyaan mengapa kata-kata 
tersebut harus dalam Bahasa Mandarin? Tidak bolehkah diterjemahkan 
dalam bahasa lain? Hal ini juga bertentangan dengan Buddha Dharma, 
dimana Sang Buddha mengajarkan bahwa Dharma ajarannya bolehlah 
diterjemahkan dalam bahasa apapun juga. Lebih jauh lagi apa yang 
mereka sebut dengan tiga mestika tersebut jauh sekali berbeda dengan 
yang terdapat dalam Buddha Dharma. 

4.Lao Mu 

kita baca puisi yang ditulis oleh Aliran Maitreya berikut ini: 
"Buddha Maitreya, bangkitkanlah kekuatan jiwa, sehingga aku mampu 
bangkit dari kegelapan... Bekerja dan berkorban dalam nama LAOMU 
adalah pengimpasan dosa, namun tetap kulakukan tanpa pamrih. Membina 
diri berarti mencintai diri sendiri. Siapa membina, dialah yang 
mendapatkan. Bukanlah LAOMU yang menjauhiku, melainkan akulah yang 
telah menjauhkan diri dari LAOMU. 
Buddha Maitreya, bantulah aku dalam menghancurkan ego ini, sehingga 
mampu menjadi seorang pengasih bagi sesama. 
Terima kasih LAOMU, kesempatan masih Kau berikan kepadaku. 
LAOMU, melalui alam semesta, aku bersaksi akan kebesaran Kasih dan 
Kuasa-Mu! 

Datang kepada LaoMu 

Ada kalanya kita lelah dan datang kepada LaoMu, tetapi tampaknya LaoMu 
diam saja. Lao Mu sepertinya meninggalkan kita menghadapi semua 
masalah itu sendiri. Sesungguhnya tak ada yang lebih benar dari LaoMu 
'LaoMu tak pernah meninggalkan kita' terlebih-lebih disaat kita dalam 
keadaan sulit. Hingga ada kisah yang mengatakan orang jahat lebih 
dekat dengan surga karena semakin jahat seseorang maka Tuhan akan 
berada semakin dekat untuk menyadarkannya. 
Penyebab mengapa kita merasa 'dianggap sepi' adalah karena kita datang 
sebagai cangkir yang sudah terlalu penuh. Tak ada lagi tempat kosong 
bagi LaoMu dan para Buddha untuk meletakkan penghiburan serta kekuatan 
bagi kita. 
Ketika menghadap LaoMu , hendaknya membiarkan hening mengisi diri, 
biarkan cangkir menjadi kosong. Ketika kita sedih tak perlu datang 
dengan kata-kata, LaoMu mengetahui dengan jelas semua yang kita alami. 
Hanya ada kita yang mau berserah diri untuk dihibur-Nya dan bersandar 
pada tiang-Nya. 
Jika kita menghendaki LaoMu berkuasa sebagai Sang penghibur sejati dan 
sumber kekuatan diri, maka jangan pernah meragukan petunjuk-Nya. 
Ingat ketika kita merasa sedih, merasa pilu, merasa derita pastikan 
dalam diri kita bahwa LaoMu ada disamping kita, sebaliknya jika kita 
merasa bahagia, gembira LaoMu juga menyertai kita. " 

Kritikan: Pertama kali tidak ada dalam Agama Buddha sesuatu yang 
disebut dengan nama Lao Mu. Menilik puisi di atas jelas sekali Umat 
Maitreya hendak mengasosiasikan Lao Mu dengan Tuhan, padahal dalam 
Buddhisme tidak dikenal konsep Tuhan semacam itu. Tidak ada Tuhan yang 
pengasih, sebagaimana yang dibabarkan Sang Buddha dalam JATAKA VI:208: 

"Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan. 
Mengapa "mahadewa" itu tidak menciptakan secara baik? 
Bila kekuatannya dikatakan tak terbatas, 
Mengapa tangannya begitu jarang memberkati, 
Mengapa dia tidak menganugerahi kebahagiaan saja? 
Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidak-tahuan merajalela 
Mengapa kepalsuan menang, sebaliknya kebenaran dan keadilan gagal 
Saya menganggap, padangan tentang "mahadewa" adalah Ketakadilah yang 
membuat dunia yang diatur keliru." 

Demikianlah pandangan Buddhis tentang Tuhan sudah jelas dan tidak ada 
yang namanya Lao Mu sebagai Tuhan ataupun mahadewa. Sajak-sajak di 
atas jelas lebih dekat pada Kr*st*n daripada Buddhisme. Oleh sebab itu 
jelas sekali Yi Guan Tao bukanlah Buddhis. 

C.KESIMPULAN. 
Sebenarnya masih banyak kesalahan ajaran Yi Guan Tao ditinjau dari 
sudut pandang Buddhisme, namun karena terbatasnya waktu akan dibatasi 
sampai di sini saja, karena hal-hal yang dipaparkan di atas sudah 
cukup jelas membuktikan perbedaan doktrin yang menyolok antara 
Buddhisme yang sejati dengan Yi Guan Tao. Yang kita perlu tahu hanya 
satu hal: YI GUAN TAO BUKAN BUDDHIS dan banyak ajarannya yang 
bertentangan dengan Buddhisme yang sejati. 
Bagi Umat Yi Guan Tao saran saya belajarlah Buddhisme yang sejati, 
agar pintu penerangan sempurna terbuka bagi kalian. Marilah kembali ke 
pangkuan Buddha Dharma yang sejati. 

DAFTAR PUSTAKA 
Mizuno, Kogen: Buddhist Sutras, Origin, Development, Transmission, 
Kosei Publishing, Tokyo, 1995. 

Dharma Pitaka 

Walshe, Maurice: The Long Discourses of the Buddha, A Translation of 
the Digha Nikaya, Wisdom Publication, 1995. 

Paludan, Ann: Chronicle of The Chinese Emperors, Thames & Hudson, 
1999. 

**************** 
Sebagaimana ia mengajari orang lain,
Demikianlah hendaknya ia berbuat.
Setelah ia dapat mengendalikan dirinya sendiri dengan baik,
hendaklah ia melatih orang lain.
Sesungguhnya amat sukar untuk mengendalikan diri sendiri.

(DHAMMAPADA, syair 159) 

Oleh diri sendiri kejahatan dilakukan,
Oleh diri sendiri pula seseorang menjadi suci.
Suci atau tidak suci tergantung pada diri sendiri.
Tak seorangpun yang dapat mensucikan orang lain.

(DHAMMAPADA, syair 165)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar