Tampilkan postingan dengan label BODHISATTVA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BODHISATTVA. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Februari 2012

Bodhisattva Ksitigarbha



“Semua makhluk terbebaskan, Baru meraih Pencerahan,
Alam neraka belum kosong, Bersumpah tidak menjadi Buddha”

Pada tahun 719 M, seorang pangeran muda bermarga Jin asal kerajaan Xin Luo (Silla, salah satu kerajaan di semenanjung Korea), Jin Qiaojue (696-
794), meninggalkan kehidupan istana yang gemerlap untuk ditahbis menjadi bhiksu sederhana dengan nama Dharma – Dizang (Simpanan/Permata Bumi -Ksitigarbha). Dizang berperawakan tinggi dan perkasa, kekuatan ototnya sanggup mengalahkan puluhan orang, namun wataknya lembut dan berperilaku bajik.
Pada masa-masa tersebut, agama Buddha berkembang pesat di kerajaan Tang (Tiongkok). Para bhiksu terpelajar dari kerajaan Silla, Goguryeo, Baekje (tiga kerajaan di Korea), dan Jepang sering mengunjungi kerajaan Tang untuk mendalami Buddha Dharma.
Bhiksu Jin Dizang yang juga haus akan Dharma,bersama anjing kesayangannya - Shanting, pada tahun 742 mengarungi lautan dan mendarat di kerajaan Tang (Tiongkok). Dizang mengembara hingga ke Jiuzi Shan (Gunung Sembilan Anak) yang terletak di Chizhou, Anhui.
Di belakang hari Jiuzi Shan yang memiliki 9 puncak ini populer dengan nama Jiuhua Shan (Gunung Sembilan Bunga). Nama Jiuhua Shan ini diberikan oleh
pujangga legendaris, Li Bai, pada tahun 754.
Jin Dizang berdiam dan berlatih keras di sebuah goa selama bertahun-tahun. Hingga pada tahun 756, ketika seorang pemuka masyarakat setempat bernama Zhuge Jie bersama beberapa sahabat mendaki Jiuhua Shan, mereka dikejutkan adanya sesosok manusia yang sedang bermeditasi di dalam goa. Melihat kondisi pelatihan yang keras dan keteguhan Jin Dizang, Zhuge Jie tergugah untuk berupaya membangun vihara bagi Jin Dizang.
Saat itu orang terkaya dan penguasa tanah di seantero Jiuhua Shan adalah Min Ranghe, seorang umat Buddha yang taat dan dermawan. Min Ranghe
menanyakan luas tanah yang dibutuhkan, Jin Dizang berkata, “Cukup satu ukuran kasaya (jubah bhiksu).”
Di sela-sela kebingungan orang-orang yang mendengar jawaban tidak masuk akal ini, Jin Dizang melepaskan jubah dan melemparkannya ke udara. Peristiwa ajaib pun muncul, jubah itu berangsur-angsur membesar
hingga menutupi Jiuhua Shan. Semua orang yang melihatnya pun merasa takjub, ternyata bhiksu di hadapan mereka ini bukan bhiksu biasa.
Setelah pembangunan vihara selesai, Jin Dizang mulai membabarkan Dharma. Dari hari ke hari jumlah bhiksu yang datang untuk belajar semakin banyak. Juga tak sedikit bhiksu dari kerajaan Shilla yang datang ke Jiuhua Shan mengikuti jejak Jin Dizang.
Min Ranghe akhirnya juga menjadi murid Jin Dizang, pun putranya yang bernama Dao Ming menjadi bhiksu di bawah bimbingan Jin Dizang. Demikianlah Jin Dizang membabarkan Dharma di Jiuhuashan hingga
akhir hayatnya dalam usia 99 tahun. Kisah kehidupan Bhiksu Jin Dizang ini tercatat dalam kitab Song Gao Seng Zhuan (Kisah Bhiksu Mulia Dinasti Song) dan Jiu Hua Shan Zhi (Catatan Gunung Jiuhua). Jin Dizang
kemudian diyakini sebagai jelmaan dari Bodhisattva Ksitigarbha. Seperti halnya Putuo Shan dipandang sebagai gunung suci Bodhisattva Avalokitesvara, Wutai Shan sebagai gunung suci Bodhisattva Manjusri
dan Emei Shan sebagai gunung suci Bodhisattva Samantabhadra, maka Jiuhua Shan dianggap sebagai gunung suci Bodhisattva Ksitigarbha.
Sebenarnya kisah Bhiksu Jin Dizang yang berdiam di Jiuhua Shan ini hanyalah satu dari sekian banyak lakon jelmaan Bodhisattva Ksitigarbha di seluruh penjuru semesta. Dalam Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana Sutra disebutkan ketika Buddha Sakyamuni membabarkan Dharma bagi ibunda di Surga Trayastrimsa, makhluk yang hadir dalam pesamuan itu
tidak hanya berasal dari lokadhatu (alam bumi) ini saja, bahkan dari lokadhatu lain juga turut hadir dengan jumlah yang tak terhitung banyaknya. Saat Buddha Sakyamuni bertanya kepada Bodhisattva Manjusri
tentang jumlah makhluk yang hadir dalam pesamuan itu, Manjusri dengan rendah hati berkata bahwa walaupun mengerahkan kekuatan batin selama seribu kalpa, Manjusri tetap tak dapat mengkalkulasikannya. Namun satu hal yang menakjubkan adalah bahwa semua makhluk yang jumlahnya tak terkirakan ini adalah makhluk yang telah, sedang, dan akan dibimbing oleh Bodhisattva Ksitigarbha.
Ksitigarbha adalah Bodhisattva agung yang telah membangkitkan bodhicitta dan mempraktikkan paramita sejak lebih dari milyaran kalpa yang lalu. Sebagai ilustrasi, Buddha Sakyamuni memberikan pemaparan seperti berikut, “Seandainya semua rumput, pohon, hutan, padi, rami, bambu, alang-alang, batu, gunung, debu halus yang berada di alam Trisahasra-Mahasahasra, masing-masing benda itu dijadikan sebagai satu bilangan dan setiap bilangan dijadikan sebagai Sungai Gangga. Butiran pasir yang berada di setiap Sungai Gangga itu, tiap butirnya dijadikan sebagai satu alam dunia, butiran debu yang berada di tiap alam itu, tiap butirnya dipandang sebagai satu kalpa. Kumpulan debu selama satu kalpa itu dipandang sebagai satu kalpa. Bodhisattva Ksitigarbha sejak mencapai tahapan Bodhisattva tingkat Bhumi ke-10 hingga sekarang, lamanya telah mencapai ribuan kali lipat perumpamaan di atas… Kewibawaan dan kekuatan ikrar Bodhisattva ini sungguh tidak terbayangkan.”
Adapun asal nama Ksitigarbha dapat ditelusuri dalam kitab San Bao Gan Ying Yao Lue Lu (Catatan Intisari Kontak Batin dengan Triratna) (Tripitaka Taisho 2084) tertulis: “Saat itu Bodhisattva Ksitigarbha berkata kepada Buddha, … Saya teringat pada masa kalpa lalu yang tak terhitung, terdapat seorang Buddha bernama Shao Guang Wang Fo (Buddha Raja Cahaya Membara). Setelah Buddha itu Parinirvana, di masa Dharma Identik, saya tinggal di alam manusia awam. Ada seorang pertapa di Gunung Juteluo yang mahir dalam kekuatan gaib. Saya melihat orang-orang mendapat gangguan makhluk halus, seakan tiada bedanya bagaikan orang tua mereka sendiri. Saat itu saya berikrar sebagai berikut: mencari guru yang bajik untuk belajar cara menaklukkan makhluk halus. Lalu saya menuju Gunung Juteluo dan menyampaikan maksud pada pertapa tersebut. Sang pertapa sangat gembira dan dalam waktu tiga hari mengajarkan saya cara untuk mengetahui segala ajaran dan mengikis perbuatan jahat. Kemudian saya mengumpulkan para makhluk halus jahat itu di tempat saya. Berdasarkan ajaran guru, saya taklukkan dan bimbing mereka agar mengembangkan hati yang bajik. Sesudah itu, dalam sekejab semua makhluk yang menderita di alam neraka, masing-masing menaiki daun teratai dan segala penderitaan mereka berhenti. Saat itu, ketika pertapa itu menyaksikan saya mendapatkan kekuatan yang betapa luar biasanya, memberikan peneguhan bagi saya dengan berucap: dalam masa kehidupan yang tak terhitung dan tak terbatas, Buddha memberikan peneguhan dengan nama Ksitigarbha. Di dalam dunia yang penuh dengan lima kekeruhan, sering menjelma di alam manusia, dewa dan neraka, membimbing para makhluk hidup agar terhindar dari bencana …”
Demikianlah Ksitigarbha terus menjalankan praktik Bodhisattva tanpa jeda waktu. Meski tak terhitung jumlah siswa bimbinganNya yang telah mencapai keBuddhaan, namun Ksitigarbha tetap masih berstatus sebagai Bodhisattva. Dalam Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana Sutra disebutkan adanya dua raja yang berikrar. Salah seorang raja berikrar: semoga saya secepatnya mencapai keBuddhaan, kemudian menyelamatkan makhluk hidup. Raja yang lain berikrar: bila tidak menolong habis semua makhluk hidup yang menderita agar mereka memperoleh kebahagiaan hingga mencapai keBuddhaan, maka saya selamanya tidak ingin menjadi Budha. Raja yang pertama kini telah mencapai Penerangan Sempurna dengan sebutan Sarvajnasiddha Tathagata, sedang raja kedua adalah Bodhisattva Mahasattva Ksitigarbha. Karena itulah Ksitigarbha dikenal pula sebagai Bodhisattva dengan Ikrar Teragung.
Namun jangan salah dimengerti dengan beranggapan bahwa Ksitigarbha benar-benar belum mencapai keBuddhaan. Dalam kalpa masa lalu yang tak terhingga lamanya, menurut Zhan Cha Shan E Ye Bao Jing (Sutra Penyelidikan Buah Karma Baik dan Buruk), Ksitigarbha sesungguhnya telah mencapai Kebuddhaan karena buah praktik paramitaNya telah matang, namun sehubungan dengan ikrar agungNya, Ksitigarbha tetap terus menjelma di sepuluh penjuru semesta ini dengan kekuatan kebijaksanaanNya bagi kebahagiaan semua makhluk.
Satu pandangan yang tersebar luas di kalangan masyarakat awam selama ini adalah adanya anggapan bahwa Ksitigarbha adalah penjaga atau raja neraka. Banyak vihara Mahayana yang menempatkan rupang Ksitigarbha dalam ruang abu kremasi umat di vihara bersangkutan. Para umat yakin bahwa sanak keluarga yang telah meninggal itu akan dapat terbebas dari penderitaan di bawah bimbingan Ksitigarbha.
Pada satu sisi, kesan ini tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Ksitigarbha menyatakan ikrar luhur untuk menyelamatkan makhluk hidup yang terjatuh di alam paling menderita. Di mana lagi alam yang paling menderita jika bukan di neraka? Hal ini dapat terlihat dalam ikrar luhur Ksitigarbha: “Semua makhluk terbebaskan, baru meraih Pencerahan. Alam neraka belum kosong, bersumpah tidak menjadi Buddha.”
Namun pada sisi lain, pemahaman manifestasi Ksitigarbha semestinya tidak dimaknai sebatas persepsi sebagai penjaga neraka saja. Manifestasi penyelamatan makhluk alam neraka hanya merupakan salah satu dari misi mulia yang diembanNya karena Ksitigarbha sering pula menampakkan diri dalam wujud raja dewa, Pratyeka Buddha, dan lain sebagainya. Ksitigarbha menggunakan berbagai upaya kausalya (metode tepat guna) untuk membantu makhluk yang berjodoh, tak peduli di manapun makhluk itu berada. Tapi kita harus tahu bahwa pada masa Dharma Akhir ini, nilai-nilai moralitas semakin tidak dihargai, sifat individualistis dan egoisme semakin kental, serta manusia semakin rentan terhadap berbagai konflik kepentingan. Menilik kondisi seperti ini, jelaslah sudah bahwa tingkat resiko untuk terjatuh ke alam neraka jauh lebih memungkinkan, maka tepatlah bila Ksitigarbha menjadikan pintu neraka sebagai basis utama dalam menolong dan menyadarkan kita semua. Ini adalah semangat Bodhisattva yang sesuai dengan yang diajarkan oleh Buddha: “Jika bukan saya yang masuk ke alam neraka [untuk memberi pertolongan], siapa lagi yang [mau] masuk ke neraka?”
Itulah sosok Ksitigarbha, Maha Bodhisattva yang memiliki ikrar paling agung. Ikrar agung itu bagaikan bumi yang luas yang tak membeda-bedakan semua benda yang bertumpu padanya, pun bagaikan bumi yang di dalamnya terkandung tambang permata dan enerji yang dahsyat. Demikianlah kebijaksanaan maha sempurna yang dimiliki Ksitigarbha yang terkandung dalam ikrar yang paling agung demi terwujudnya kebahagiaan semua makhluk.

Oleh: Ching Ik

Pangeran Dharma MANJUSRI BODHISATTVA




Menurut pemahaman Buddhisme Mahayana, Bodhisattva Manjusri diwujudkan sebagai sosok Bodhisattva yang memegang sebatang pedang kebijaksanaan (perlambang pemutus kekotoran batin) dan mengendarai
singa berbulu emas (simbol keperkasaan menaklukkan kekuatan jahat), kadang kala dilukiskan juga dalam kondisi duduk di atas bunga teratai (melambangkan kemurnian).
Dalam Sutra Avatamsaka, Bodhisattva Manjusri dikenal sebagai salah satu dari Tiga Makhluk Suci Avatamsaka, yakni: Bodhisattva Manjusri (kiri), Buddha Sakyamuni (tengah) dan Bodhisattva Samantabhadra (kanan).
Dalam Buddhisme Tiongkok, terdapat beberapa versi dalam penyebutan nama Bodhisattva Manjusri, di antaranya adalah Wenshushili-Pusa dan Manshushili-Pusa, namun lebih populer dengan sebutan singkat
Wenshu Pusa. Nama Manjusri sendiri memiliki beberapa makna, yakni Miaode (Kebajikan Menakjubkan), Miaoshou (Kepala Menakjubkan - karena kebajikannya tertinggi di atas para Bodhisattva) dan Miaojixiang
(Berkah Menakjubkan) .
Jika Bodhisattva Avalokitesvara dikatakan sebagai manifestasi welas asih terluhur,maka Bodhisattva Manjusri dikenal sebagai manifestasi kebijaksanaan tertinggi. Ini dikarenakan Bodhisattva Manjusri merupakan
Buddha masa lalu yang terus menerus bermanifestasi dengan kekuatan kebijaksanaan sejati. Dalam kitab Shuranggama Samadhi Sutra, Buddha Sakyamuni menjelaskan bahwa Bodhisattva Manjusri merupakan Buddha
masa lalu yang bernama Tathagata Longzhong Shangzunwang.
Bodhisattva Manjusri juga muncul di masa kini sebagai Buddha Huanxizangmonibaoji dari Tanah Buddha Changxi (Kegembiraan Abadi),
(Angulimala Sutra, bab 4).
Pada sisi lain,juga bermanifestasi dalam wujud Bodhisattva Manjusri sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.
Selain itu, ketika Buddha Amitabha masih berstatus sebagai seorang raja Cakravartin, saat itu Bodhisattva Manjusri merupakan putra mahkota ketiga. Buddha Ratna-garbha di masa itu meramalkan bahwa Manjusri akan menjadi Buddha dengan nama Tathagata Samanthadarsin
(Karuna Pundarika Sutra, bab 3).


Dengan semua manifestasi ini, Bodhisattva Manjusri mempertunjukkan kebijaksanaan sempurna dan upaya kausalya (metode tepat dan praktis) membimbing semua makhluk agar tergerak untuk membangkitkan bodhicitta mencapai Pencerahan Sempurna. Itulah sebabnya, Bodhisattva Manjusri dijuluki sebagai “ibu para Buddha dari tiga masa” dan “guru para Buddha”.
Pada masa kehidupan Buddha Sakyamuni, Bodhisattva Manjusri terlahir di kerajaan Kosala sebagai anak dari seorang kasta Brahmana bernama Fande (Kebajikan Brahma). Tubuhnya berwarna keemasan, memiliki 32 ciri fisik
manusia unggul dan dilahirkan dari sisi sebelah kanan tubuh ibunya. Makna nama MiaoJixiang (Berkah Menakjubkan) berasal dari munculnya sepuluh peristiwa menakjubkan saat kelahirannya, yakni: turun Amrita (air surgawi) dari langit; muncul tujuh permata dari dalam tanah; padi dalam lumbung berubah menjadi beras emas; tumbuh bunga teratai di halaman rumah; cahaya gemilang memenuhi rumah; ayam menetaskan burung hong; kuda melahirkan kirin; sapi melahirkan anak sapi langka; babi melahirkan longtun (babi berwujud naga); muncul gajah bergading enam.
Manjusri dikenal memiliki kebijaksanaan dan kemampuan berbicara yang unggul, sanggup mengalahkan para penganut dari 96 aliran tirtika dalam hal perdebatan. Setelah menjadi siswa Buddha Sakyamuni, Manjusri berhasil menguasai suatu tingkat samadhi Shuranggama. Dengan kekuatan samadhi
Shuranggama ini Manjusri melakukan berbagai metode yang sangat bijaksana dalam membimbing para makhluk, bahkan setelah 450 tahun Parinirvana Buddha Sakyamuni, Manjusri masih tetap melakukan tugas pengajaran Dharma. Dalam jajaran siswa tingkat Bodhisattva, beliau menduduki posisi sebagai siswa paling terkemuka dalam hal kebijaksanaan.
Oleh karena itu, beliau juga dijuluki sebagai Pangeran Dharma Manjusri. Sekitar tiga ratusan sesi pembabaran filosofi Mahayana oleh Buddha Sakyamuni, Manjusri selalu hadir sebagai ketua dari Komunitas Bodhisattva.
Dalam Vimalakirti Nirdesa Sutra misalnya, saat para siswa Sravaka dan Bodhisattva merasa berkecil hati untuk bertemu Vimalakirti karena tidak sanggup berhadapan dengan kemampuan berbicaranya yang menakjubkan,
Manjusri tampil mengemban tugas ini. Pertemuannya dengan Vimalakirti menjadi sebuah ajang perbincangan Dharma yang menakjubkan. Tidak hanya dalam satu Sutra, dalam berbagai Sutra juga tercantum tentang kemampuan pembabaran Dharma yang dimiliki Manjusri yang dapat dipastikan akan membuat kita berdecak kagum. Buddha Sakyamuni sendiri
kerap menceritakan kehidupan lalu Bodhisattva Manjusri, bahkan dalam salah satu kehidupan lampau, Sakyamuni pernah menjadi murid Manjusri.
Di mata penganut Buddhisme Tiongkok, Bodhisattva Manjusri memiliki posisi yang cukup istimewa. Perlu diketahui bahwa di Tiongkok terdapat empat Gunung Buddha yang diyakini sebagai tempat pembabaran Dharma empat Bodhisattva Agung, yakni Putuo Shan (Bodhisattva Avalokitesvara), Jiuhua Shan (Bodhisattva Ksitigarbha), Emei Shan (Bodhisattva Samantabhadra), sedang Wutai Shan atau juga dikenal dengan sebutan Qingliang Shan (Gunung Sejuk) sebagai tempat pembabaran Dharma Bodhisattva Manjusri.
Dalam Avatamsaka Sutra bagian “Kediaman Para Bodhisattva” disebutkan, “Di wilayah timur laut, terdapat gunung Qingliang (Gunung Sejuk). Semenjak lama gunung ini menjadi tempat kediaman para bodhisattva, dan sekarang ini Bodhisattva Manjusri bersama sekelompok Bodhisattva
lain sejumlah 10.000 orang menetap di gunung ini untuk membabarkan Dharma.” Kemudian dalam Ratna-garbha Dharani Sutra disebutkan, “Pada saat itu, Bhagava berkata kepada Bodhisattva Guhyapada: Setelah parinirvana-Ku, di arah timur laut dari Jambudwipa terdapat sebuah negeri
bernama Mahacina. Di negeri ini terdapat pegunungan yang
bernama Wuding (Lima Puncak). Bodhisattva Manjusri berdiam di tempat ini untuk membabarkan Dharma kepada para makhluk hidup. Terdapat juga para makhluk dewa, naga, yaksha, raksasa, kinnara, mahoraga, manusia dan makhluk bukan manusia yang jumlahnya tak terbatas mengelilingiNya,
menghormati dan memberi persembahan.”
Berbagai kisah keajaiban tentang jelmaan Beliau tidak henti-hentinya bertebaran di seantero Wutai Shan. Baik sebagai wujud orang tua maupun anak kecil, Manjusri menggunakan berbagai upaya kausalya untuk menjalin
ikatan jodoh karma dengan para makhluk hidup. Bahkan tokoh kharismatik Master Xuyun pun dalam perjalanan san bu yi bai (tiga langkah satu sujud) ke Wutai Shan sempat mendapat pertolongan dari Bodhisattva Manjusri dalam wujud seorang pengemis. Patriak ke 4 dari mazhab Sukhavati,
Master Fazhao, juga pernah bertemu dengan Bodhisattva Manjusri beserta kemegahan viharanya di sebuah hutan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata saat berkunjung ke Wutai Shan.
Semua kisah yang bernuansa metafisik ini sungguh di luar jangkauan pemahaman kita. Namun sebagai seorang umat Buddha yang berpandangan benar, hendaklah kita melihat segala mukjizat yang dilakukan Bodhisattva
Manjusri sebagai upaya kausalya. Bodhisattva Manjusri adalah Bodhisattva Kebijaksanaan Tertinggi, pada sisi lain kebijaksanaan itu mengalir menjadi berbagai wujud tubuh jelmaan yang semata-mata ditujukan demi manfaat
dan kebahagiaan semua makhluk. Tetapi, manifestasi Bodhisattva Manjusri sebenarnya tidak hanya sebatas di Wutai Shan atau pada bentuk-bentuk tubuh jelmaan saja.
Saat kebijaksanaan transenden muncul dalam batin setiap makhluk hidup, maka di situlah tempat bersemayam yang sesungguhnya dari Bodhisattva Agung ini. Saat hati dan pikiran kita dalam keadaan bersih dan murni, di situlah akan tertampak Pangeran Dharma ini.


Oleh: Ching Ik

Sabtu, 04 Februari 2012

BODHISATTVA SANGHARAMA (伽蓝菩薩)




Sejarah Singkat

Sebagian besar orang bisa saja tidak mengenal nama Bodhisattva Sangharama, tetapi begitu melihat citra rupang seorang jendral gagah
perkasa dengan jenggot panjang indah bergemulai dan paras muka merah lebam berkilau,maka mereka pasti akan langsung tahu. Ya, Bodhisattva
Sangharama adalah Guan Yu alias Guan Gong (Kwan Kong).
Siapa tidak tahu Guan Yu? Banyak orang mengetahuinya dari cerita Sam Kok (Kisah Tiga Negara) dan game Dynasty Warrior. Namun, tahukah kita
bagaimana latar belakang Guan Yu hingga dinobatkan sebagai Dharmapala (Pelindung Dharma) dalam tradisi Mahayana Tiongkok?
Guan Yu (160 - 219 M), alias Yun Chang, lahir pada tanggal 24 bulan 6 Imlek, adalah penduduk asal Jiezhou, Hedong (sekarang Yuncheng, Propinsi
Shanxi). Sejak kecil dididik dalam bidang kesusastraan dan sejarah. Beliau sangat menggemari kitab sejarah Chunqiu (Musim Semi dan Gugur) dan Zuozhuan (kitab sejarah karya Zuo Qiuming). Guan Yu memiliki 3 anak:
Guan Ping, Guan Xing dan Guan Suo.
Salah satu watak istimewa yang dimiliki Guan Yu adalah jiwa setia dan ksatria, beliau berani membela yang lemah dan tertindas.
Tahun 184, Guan Yu melarikan diri dari kampung halamannya setelah
membunuh orang demi membela kaum lemah. Beliau menuju wilayah Zuo, kemudian berkenalan dengan Liu Bei dan Zhang Fei.
Liu Bei adalah anggota keluarga Kaisar Kerajaan Han yang sedang merekrut prajurit untuk membasmi pemberontakan Serban Kuning.
Karena memiliki cita-cita yang sama, maka mereka bertiga menjalin tali persaudaraan yang dikenal dengan sebutan Tiga Pertalian Setia di Taman Bunga Persik.
Semenjak itu, mereka bertiga berkomitmen sehidup semati memperjuangkan cita-cita penegakan hokum demi membersihkan Kerajaan Han dari gerogotan korupsi dan pengkhianatan.
Namun Kerajaan Han yang telah berdiri kokoh selama 400 tahun itu akhirnya terpecah menjadi 3 kerajaan, yang mana Liu Bei sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan menyatakan diri sebagai penerus Dinasti Han. Era inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan San Guo (Sam Kok - Tiga Negara). Perjuangan keras tiga bersaudara Taman Bunga Persik untuk
mempersatukan Tiongkok tidak berhasil. Begitulah hingga usia 60 tahun, Guan Yu bersama putranya,Guan Ping, akhirnya gugur dalam pertempuran.
Meskipun demikian, rasa hormat terhadap Guan Yu tidak serta merta lenyap seiring dengan gugurnya pahlawan berparas merah lebam ini. Keberanian,
kesetiaan dan jiwa ksatria beliau menjadi kisah harum dalam masyarakat Tionghoa selama turun temurun.
Selain itu, dalam kalangan spiritual, dikenal pula kisah perjodohan Guan Yu dengan ajaran Buddha, sebuah ajaran kebenaran sejati yang menembus kepekatan misteri dimensi ruang dan waktu. Ya, Guan Yu menjadi
siswa Buddha setelah beliau gugur.

Awal Mula Sebagai Pelindung Dharma

Kisah berikut ini terjadi beberapa ratus tahun setelah gugurnya Guan Yu. Berdasarkan catatan sejarah Buddhis - Fozhu Tongji, pada tahun 592 M,
(Dinasti Sui, era Kai Huang ke-12), disebutkan bahwa pada suatu malam, langit tiba-tiba menjadi cerah,bulan terlihat jelas sekali, Guan Yu bersama Guan Ping dan sekelompok makhluk gaib muncul di hadapan
Master Tripitaka Zhiyi (pendiri aliran Tiantai Tiongkok) yang sedang bermeditasi di Bukit Yuquan. Guan Yu berkata, “Saya Guan Yu dari era akhir Dinasti Han. Ini adalah putra saya, Guan Ping. Kami terus berkelana
setelah meninggal. Yang Arya, dengan tujuan apakah anda datang ke sini? Master Zhiyi menjawab, “Aku datang ke sini untuk mendirikan vihara.”
Guan Yu menjawab, “Yang Arya, izinkanlah kami untuk membantumu. Tidak jauh dari sini, terdapat lahan yang kokoh tanahnya. Saya dan putra saya
dengan senang hati akan membangun vihara di sana untuk anda.
Mohon lanjutkan meditasinya, vihara akan selesai dalam waktu 7 hari saja.” Setelah Master Zhiyi selesai bermeditasi, terlihat sebuah vihara yang
sangat indah muncul persis di tempat yang ditunjukkan oleh Guan Yu. Vihara itu kemudian diberi nama Vihara Yuquan.
Suatu hari Guan Yu datang ke Vihara Yuquan untuk mendengarkan Master Zhiyi membabarkan Dharma, setelah itu beliau memohon untuk dapat menjadi siswa Buddha dengan menerima Trisarana dan Panca Sila Buddhis. “Aku sangat beruntung mendapat kesempatan mendengarkan Dharma dan beraspirasi mempraktikkan Jalan Bodhi (pencerahan) mulai dari sekarang. Mohon izinkanlah saya untuk menerima Sila dari Anda,” demikian ucap Guan Yu kepada Master Zhiyi. Master Zhiyi kemudian membangun sebuah kuil
untuk Guan Yu di sebelah barat daya vihara. Sebuah batu ukiran yang bertajuk tahun 820 M di Vihara Yuquan mengisahkan tentang pertemuan antara Guan Yu dan Zhiyi tersebut.
Selain kisah di atas, ada satu versi lain tentang kisah bagaimana Guan Yu menjadi seorang pemeluk agama Buddha. Dikatakan bahwa pada suatu malam Guan Yu menemui Bhiksu Zhikai, murid dari Tiantai Master Zhiyi, dan menerima Trisarana dari Bhiksu Zhikai.
Kemudian Bhiksu Zhi Kai melaporkan perjumpaan dengan Guan Yu tersebut kepada Yang Guang, Pangeran Jin (yang kelak akan dikenal sebagai Kaisar Sui – Yang Di). Pangeran Yang Guang memberikan Guan Yu gelar
“Sangharama Bodhisattva”. Itulah asal muasal dari mana gelar Sangharama diberikan kepada Guan Yu.
Pada kisah lainnya, seperti dalam Catatan Kisah Tiga Negara (San Guo Yan Yi), Guan Yu muncul di hadapan Bhikshu Pujing di malam saat gugur karena dipenggal oleh pihak Sun Quan, Raja Wu. Tubuhnya dikubur di
dekat Bukit Yuquan yaitu di Jingzhou. Di sela-sela kegalauan atas kehilangan kepala, raga halus Guan Yu bergentayangan mencari kembali kepalanya. Bhiksu Pu Jing dengan kekuatan batinnya melihat Guan Yu turun dari angkasa menunggang kuda sambil menggenggam golok besar Naga Hijau, bersama dengan 2 pria, Guan Ping dan Zhou Cang. Semasa hidupnya saat dalam pelarian dari kubu Cao Cao, Guan Yu pernah ditolong oleh Pujing di Vihara Zhen-guo. Lalu Bhiksu Pujing memukul pelana kuda dengan kebutan cambuknya seraya berkata, “Di mana Yun Chang?”
Seketika itu juga Guan Yu tersadarkan.
Guan Yu kemudian memohon petunjuk untuk dapat terbebas dari kegelapan pengembaraan batin. Pujing memberi nasehat, “Dulu salah atau sekarang benar tak perlu dipersoalkan lagi, karena terjadi pada saat sekarang tentunya ada sebab pada masa lalu.” Pujing lalu melanjutkan, “Sekarang engkau meminta kepalamu, menuntut atas kematianmu di tangan Lu Meng, namun kepada siapa Yan Liang, Wen Chou dan penjaga lima perbatasan serta banyak lagi lainnya yang telah kau bunuh, meminta kembali kepala mereka?” Kata-kata Pujing itu terasa sangat menyentak.
Setelah tersadarkan dari kegalauannya, Guan Yu lalu menjadi pengikut Buddhis. Sejak itu Guan Yu sering muncul melindungi masyarakat di sekitar Bukit Yuquan. Sebagai rasa terima kasih kepada Guan Yu, para penduduk membangun vihara di puncak Bukit Yuquan.
Gubuk rumput tempat tinggal Pujing kemudian dibangun menjadi Vihara Yuquan. Vihara Yuquan ini didirikan pada abad ke-6 M dan di dalamnya ada aula Sangharama. Ini adalah salah satu tempat pemujaan Guan Yu yang tertua, juga merupakan vihara tertua di Dangyang. Tempat penampakan raga halus Guan Yu ditandai dengan sebatang pilar batu yang bertuliskan: “Di sini tempat Guan Yun Chang dari Dinasti Han menampakkan diri.” Pilar batu itu adalah hadiah dari kaisar Wan Li masa Dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang.
Dalam Sutra Saptabuddha Ashtabodhisattva Maha Dharani Sutra (Sutra tentang Mantra Sakti Mahadharani yang dibabarkan 7 Buddha dan 8 Bodhisattva) tercatat bahwa ada 18 Sangharama (Qielan Shen) sebagai pelindung lingkungan vihara, yaitu: Meiyin, Fanyin, Tian’gu, Tanmiao, Tanmei, Momiao, Leiyin, Shizi, Miaotan, Fanxiang, Renyin, Fonu, Songde, Guangmu, Miaoyan, Cheting, Cheshi, dan Bianshi.
Guan Yu sendiri bukanlah sosok yang tercatat dalam Sutra Mahayana sebagai Sangharama. Term Sangharama sendiri mengandung pengertian sebagai tempat tinggal anggota Sangha, atau lebih umum dikenal sebagai vihara. Secara etimologi, istilah Sangharama telah dikenal sejak masa kehidupan Buddha. Selain 18 dewa Sangharama yang telah disebutkan di atas, dua tokoh yang dianggap sebagai pelindung utama Sangharama adalah Anathapindika dan Pangeran Jeta, penyokong Vihara Jetavanarama pada masa kehidupan Buddha.
Secara kualitatif, Guan Yu memiliki pengabdian yang setara dengan para Pelindung Sangharama, pun karena memiliki komitmen yang besar untuk melindungi lingkungan vihara, maka tidaklah mengherankan bila kemudian diapresiasi secara khusus oleh Mahayana Tiongkok sebagai Bodhisattva Sangharama. Ada juga yang menyebut sebagai Bodhisattva Satyadharma Kalama.
Di kalangan Mahayana Tiongkok, Guan Yu sering ditampilkan berdiri berpasangan dengan Dharmapala Veda (Weituo Pusa) yang juga merupakan Pelindung Dharma. Keduanya mendampingi rupang Buddha atau Avalokitesvara.

Pemujaan Guan Yu Hingga ke Tibet

Pemujaan Guan Yu juga meluas sampai ke Tibet (terutamadi aliran Gelugpa dan Nyingmapa). Altar beliau ada di vihara-vihara Tibet, seperti Mahavihara Tsurphu, sejak kunjungan Maha Ratna Dharmaraja Karmapa V ke Tiongkok atas undangan Kaisar Yong Le. Dulu di Tibet, Guan Yu sebagai Sangharama dikenal dengan nama Karma Hansheng.
Di Tibet dan Mongolia, pemujaan Guan Di (Dewa Guan Yu) diasosiasikan sebagai Raja Gesar dari Ling yang dikenal merupakan emanasi Guru Padmasambhava. Pengasosiasian tersebut dimulai sejak zaman Dinasti Qing (Manchu). Lobsang Palden Yeshe, Panchen Lama ke-6 (1738 - 1780 M) adalah yang pertama kali mengatakan bahwa Guan Di adalah Gesar. Oleh karena itu Guan Di Miao (Kuil Guan Gong) di Lhasa disebut juga dengan nama Gesar Lhakhang. Ada juga yang percaya bahwa Guan Di dan Gesar adalah inkarnasi masa lalu dari Panchen Lama.
Guan Gong dipandang sebagai Dewa Pelindung Dinasti Qing, sedangkan Vajrayana Buddhis sekte Gelug adalah agama yang dianut anggota kerajaan Dinasti Qing. Demikianlah Guan Gong (Yang Mulia Guan Yu) dihormati baik oleh kalangan Mahayana maupun Vajrayana (Tantrayana) sebagai Bodhisattva Dharmapala (Pelindung Dharma). Bahkan dalam kepercayaan masyarakat, diyakini Guan Gong kelak akan menjadi seorang Buddha bernama Ge Tian (Ge Tian Gu Fo).

Pemujaan di Kalangan Umat Tao dan Kong Hu Cu

Pemujaan Guan Yu juga meluas di kalangan umat Tao dan Konghucu sebagai Guansheng Dijun, Guan Gong, dan Guan Di. Penghormatan ini tampak nyata sekali di banyak kelenteng. Sejak Dinasti Song para Taois memuja Guan Yu sebagai Dewata Pelindung Malapetaka Peperangan, sedang umat Konghucu menghormati sebagai Dewa Kesusasteraan - Wenheng Dadi.
Pemujaan Guan Gong mulai meluas di kalangan Taois pada abad ke 12 M. Menurut sejarawan Boris Riftin dan Barend J. Ter Haar, pemujaan Guan Yu di kalangan Buddhis lebih awal daripada di kalangan Taois.
Pemujaan ini mulai popular pada masa Dinasti Ming. Guan Di dipuja karena kejujuran dan kesetiaannya, pun dipandang sebagai dewa pelindung perdagangan, dewa pelindung kesusasteraan dan dewa pelindung
rakyat dari malapetaka peperangan yang mengerikan. Julukan dewa perang yang umumnya dialamatkan kepada Guan Di, harus diartikan sebagai dewa yang mencegah terjadinya peperangan dan segala akibatnya yang menyengsarakan rakyat, sesuai dengan watak Guan Yu yang budiman. Di kalangan rakyat, Guan Yu juga dianggap sebagai Dewa Rezeki - Wuchai Shen.
Bagaimana mungkin Guan Yu sebagai seorang jenderal yang sering berperang dan membunuh akhirnya dihormati sebagai Bodhisattva? Meskipun tampak kontradiktif, namun semua ini tak lebih hanyalah masa lalu yang telah sirna setelah disadarkan oleh nasehat bhiksu suci. Penyadaran ini seperti halnya kisah kehidupan Angulimala di masa kehidupan Buddha.

Sifat Keteladanan Guan Yu


Meskipun pemujaan Guan Yu tersebar di berbagai kalangan, seperti lingkungan ibadah, kepolisian, bahkan hingga kalangan mafia yang konon dikatakan meneladani sikap kesetiakawanan Guan Yu, namun tidak berarti aspek negatif dari dunia mafia lalu dikaitkan dengan sosok Guan Yu. Ini hanyalah cermin kebebasan orang dalam memilih tokoh pemujaan. Terlepas dari hal ini, ada baiknya kita melihat sifat mulia yang tercermin dari sosok Guan Yu, yang bisa menjadi teladan bagi kita semua.
1. Patriotis
2. Menjaga norma susila
3. Tidak tergiur akan kesenangan/kenikmatan
4. Tidak silau akan nama dan harta
5. Tidak mengharap yang baru dan membuang yang lama
6. Tidak melupakan kesetiaan persaudaraan
7. Berjiwa altruis (mementingkan orang lain)
Guan Yu bukan saja telah menjadi sosok yang identik dengan pemujaan spiritual, pun adalah penyatu kultur masyarakat Tiongkok di manapun berada dan menjadi sebuah maskot tentang semangat pengabdian, kesetiaan dan sikap lurus.
Sebagai penutup, kita kutip sebuah sajak yang dilantunkan sebagai apresiasi terhadap Guan Yu dalam Penuntun Kebaktian Sore kalangan Mahayana Tiongkok:
“Pemimpin Sangharama, yang mempunyai wibawa dan keagungan menata seluruh vihara. Dengan penuh sujud dan kesetiaan menjalankan Buddha Dharma. Selalu melindungi dan mengayomi Dharma Raja Graha. Tempat Suci selalu damai tenteram selamanya.

Namo Dharmapala Garbha Bodhisattva Mahasattva Mahaprajnaparamit

(Hendrick)

Selasa, 31 Januari 2012

TARA BODDHISATTVA



Oleh : Hendrick

Kita sering mendengar tentang berbagai Bodhisattva yang tampil dalam wujud pria dan bahkan ada anggapan bahwa hanya prialah yang dapat menjadi Samyaksambuddha. Lantas di manakah posisi perempuan dalam khazanah Buddhis? Apakah mereka hanya dapat menjadi seorang Shravaka Arhat, namun tidak sebagai Samyaksambuddha? Semua pertanyaan ini dapat kita jawab hanya dengan meresapi makna dari tindakan welas asih dari sang bakal Samyaksambuddha, yang dikenal dengan nama Bodhisattva Arya-Tara.

Arti nama Tara

Arti nama “Tara” adalah “Gadis Bintang” atau “Ia Yang Menyeberangkan”. Ia adalah penuntun semua makhluk agar dapat mencapai Pantai Seberang (Nirvana), maka dari itu disebut sebagai
jagattarini (juru selamat dunia). Para guru Buddhis seperti Sarvajnamitra, Dalai Lama ke-1 dan Lozang Tenpai Jetsun mengajarkan pentingnya untuk mendevosikan, menyerahkan dan menyandarkan diri kita pada Bodhisattva Tara, yang sanggup menolong kita dari berbagai bahaya dan menuntun kita agar mencapai Pencerahan.
“Tara” adalah nama yang populer bagi wanita di Tibet. Guru Candragomin di India pernah berkata:
“Jika kepada seorang perempuan bernama Tara,seseorang membangkitkan respek dan memberikan penghormatan, kebajikannya ini akan membawanya pada KeBuddhaan.”

Tara, Penolong Semua Makhluk

Tara dalam tradisi Vajrayana dikenal sebagai pemegang aktivitas welas asih para Buddha serta Ibu dari para Buddha. Bodhisattva Tara secara historis muncul dalam agama Buddha sejak abad ke-5 M.
Tara adalah prajna dari Buddha Amogasiddhi (salah satu Buddha Dhyani) dan memegang elemen udara.
Berasal dari keluarga Karma. Mampu mengubah kecemburuan dan iri hati menjadi kebijaksanaan yang tertinggi. Dalam Adhvayavajrasamgraha, Ia disebutkan berasal dari simbol Sansekerta ‘Tam’ yang berwarna hijau keemasan. Wujudnya bermacam, ada
yang dua tangan, enam ataupun delapan. Ia mampu memberikan berbagai berkah abhijna.
Banyak keajaiban yang berkenaan dengan rupang dan lukisan Tara. Konon di Kashmir terdapat rupang Tara yang mempu menyembuhkan lepra, rupang Tara yang lain secara ajaib memunculkan harta yang
dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan para anggota Sangha, dan di Pharping, Nepal, terdapat gambar Tara yang muncul dengan sendirinya dan bahkan dapat menjadi hidup memberikan bantuan
pada seorang pengemis sebagai biaya pernikahan untuk anak perempuannya. Banyak sekali rupang Tara yang dengan ajaib seolah-olah “hidup” memberikan bantuan pada para umat.
Sebagai Ibu dari para Buddha (sarva-buddhamata), Tara juga memanifestasikan sifat welas asih seorang ibu. Ia mengasihi semua makhluk seperti seorang ibu mengasihi anaknya yang tunggal.
Tara juga dikenal sebagai pembebas dari delapan ketakutan (Astamahabhaya Tara). Delapan ketakutan tersebut adalah singa (kesombongan), gajah (delusi), api (amarah), ular (iri hati), tenggelam dalam banjir (kemelekatan), iblis (keraguan), terikat (keserakahan) dan perampok (pandangan salah). Taramulakalpa yang berasal dari abad 7 M mengaitkan Tara sebagai aspek dari Avalokitesvara.


Tara dikelompokkan menjadi 21 Tara, namun secara lebih umum digambarkan ada 2 macam Tara yaitu Tara Hijau (Syamatara/Drolma) dan Tara Putih(Sitatara/Drolkar). Syamatara memiliki warna tubuh
hijau dengan tangan kanannya membentuk mudra kemurahan hati dan tangan kirinya memegang bunga lotus biru yang mekar dari telinga kirinya. Ia memakai mahkota lima Buddha dan memakai semua ornamen bodhisattva, duduk di atas teratai Lalita.
Diceritakan bahwa karena welas asih-Nya yang sangat besar, Bodhisattva Avalokitesvara menangis ketika melihat penderitaan di dunia. Secara ajaib air mataNya berubah menjadi bunga teratai dan
kemudian dari teratai tersebut muncul Tara Hijau (dari air mata kiri) dan Tara Putih (dari air mata kanan).
Wujud Tara Hijau di antaranya adalah Khadiravani Tara, Vasya Tara, Arya Tara, Mahattari Tara, Varada Tara, Durgottarini Tara, Dhanada Tara, Janguli Tara dan Parnasavari Tara. Tara Hijau berada pada Tanah Suci Buddha (buddhaksetra) yang bernama Yulokod (Yuloku) yang terdapat banyak sekali Bodhisattva wanita. Tanah Suci Tara ini digambarkan sebagai hutan hijau dengan pohon-pohon yang berbunga
dan berbuah, binatang bernyanyi dan bermain.
Indah sekali Tanah Suci Tara ini. Praktik Tara Hijau dapat melenyapkan rintangan karma serta berbagai malapetaka. Banyak dari para Yogi dan Guru Buddhis yang mengalami kemujizatan Tara Hijau.
Wujud Tara Putih ada bermacam-macam seperti Astamahabhaya Tara, Mrtyuvancana Tara, Chaturbhuja-Sita Tara, Sadbhuja-Sita-Tara, Visvamata, Kurukulla, Janguli. Tara Putih sering diasosiasikan dengan kebijaksanaan. Digambarkan seputih bulan di musim gugur dalam posisi teratai penuh dan mempunyai tujuh mata, dua mata ditambah dengan mata ketiga di dahi dan empat mata masing-masing di telapak tangan dan kaki yang menunjukkan bahwa Ia melihat dan mengetahui
semua penderitaan di alam semesta. Rambutnya berwarna hitam kebiruan. Di kepalaNya terdapat gambar Amitabha Buddha dan tangan kanannya membentuk varada-mudra. Tangan kirinya berada di posisi hati memegang setangkai bunga teratai yang mekar.
Tara Putih dikatakan memanifestasikan diri menjadi putri dari Tiongkok yang bernama Wencheng yang menikah dengan Raja Tibet Songtsen Gampo, sedangkan Tara Hijau menjelma menjadi Bhrkutidevi, istri Songtsen Gampo yang berasal dari Nepal.
Cintamanichakra Tara adalah wujud Pelindung dari Tara Putih. Tara Putih dikenal sebagai Bodhisattva yang mampu memberikan berkah penyembuhan pada mereka yang sakit. Dalam suatu ritual pelukisan Tara Putih, sang artis (pelukis) hanya boleh memakan makanan yang berwarna putih saja. Di masyarakat Newar, Nepal, terdapat puja Tara yang berkenaan dengan penyembuhan bernama Satva Vidhana Tara Puja.


Adapun perwujudan Tara Hijau yang lain, yaitu sebagai Bhrkuti Tara yang tercantum dalam teks Hevajra Tantra dan Arya Manjushrimulakalpa bersama dengan Arya Tara dan bodhisattva wanita lainnya. Pada saat berwujud biru, Ia mempunyai tiga kepala dan enam tangan. Pada saat berwujud kuning, Ia mempunyai satu wajah dengan tiga mata dengan alis yang tebal dan empat tangan. Keempat tangannya memegang tasbih, trisula, kalasa dan membentuk varada-mudra. Taranatha dari India menceritakan kunjungan seorang upasaka bernama Santivarman dari Pundravardhana ke bukit Potala,
bodhimandala dari Avalokitesvara. Dikisahkan bahwa Santivarman berdoa kepada Bhrkuti Tara agar ia dapat menyeberangi lautan dan seketika itu juga muncul seorang gadis dengan sebuah rakit yang
kemudian membawanya menyeberangi lautan. Saat mendaki bukit Potala, ia memohon bantuan dari Avalokitesvara Bodhisattva untuk dapat mencapai puncaknya dan sesampainya di sana, Santivarman
melihat gambar Bhrkuti Tara yang agung.
Dikenal pula Tara Merah yang dikenal sebagai Kurukulla atau Pithesvari, kemudian Ugra Tara yaitu Ekajati, Svapna Tara yang muncul dalam mimpi,Tara berwarna emas yaitu Rajasri Tara dan Vajra
Tara yang bertubuh kuning. Vasudhara, Bodhisattva penganugerah kekayaan dikenal pula sebagai Tara Kuning. Rupang-rupang Tara di India dapat ditemukan di Bihar. Di Nepal juga ada banyak ikonografi Tara.
Figur-figur tersebut di atas umumnya muncul sebagai seorang gadis muda berumur 16 tahun yang sangat cantik. Ia diberi gelar sebagai penolong yang tercepat karena kesigapan dalam menolong orang-orang yang menderita. Bodhisattva Tara juga dikenal atas ikrarnya yang agung yaitu mencapai tingkatan KeBuddhaan dalam wujud
seorang wanita.

Tara adalah Bodhisattva Buddhis

“Karakter dewi Hindu Tara sepenuhnya adalah Buddhis, maka dari itu sang dewi pastinya berasal dari agama Buddha.” (Benoytosh Bhattacharyya).
Prof. P. C. Jain dan Dr. Daljeet juga mengamini pendapat Benoytosh tersebut. Mr. M.K Dhavalikar menjelaskan bahwa asal mula Tara adalah Buddhis,menurutnya, Tara tidak pernah disebutkan dalam
teks-teks Brahmanikal yang lebih tua. Ada yang mengatakan bahwa sebenarnya Bodhisattva Tara diadopsi agama Buddha dari seorang dewi Hindu bernama Tara. Namun fakta sejarah yang ada membuktikan bahwa hipotesa itu tidak berdasar sama sekali. Sayangnya, hipotesa yang keliru ini sudah menyebar di banyak kalangan, dikarenakan mereka menganggap agama Hindu lebih tua daripada agama Buddha, sehingga mereka menganggap umat Buddha yang mengadopsi Tara.
Rupang atau ikonografi Tara yang tertua justru ditemukan di goa-goa Buddhis di India Barat(Kanheri, Ellora, Nasik, Aurangabad dan Ajanta)
yang berasal dari abad 6-7 M, bukan di tempat-tempat suci Hindu. Kitab tertua yang menyebutkan nama Dewi Tara adalah Guhyasamaja Tantra (abad ke 3 M atau sekitar 200-350 M) dan Arya- Manjusrimulakalpa (abad 2 sampai 4 M) yang menyebutkannya sebagai prajna dari Pancadhyani Buddha. “Tara adalah angin .... Arya Tara, pasangan dari Amoghasiddhi.” (Guhyasamaja Tantra)
Subandhu, seorang penulis yang hidup pada abad ke -5 (400 M) menulis dalam karyanya Vasavadatta: “Gadis Tara dapat terlihat, berdevosi pada bintang-bintang dan berjubah langit merah, sebagai seorang bhiksuni Buddhis.” (bhiksuki ‘vataranuragaraktambaradharini bhagavati samdhya samadrsyata).
Bahkan menurut sejarawan Jestun Taranatha, Tara telah dikenal oleh Arya Hayaghosa (80-150 M),Arya Nagarjuna (150 – 250 M) dan muridnya Aryadeva (abad 3 M). Bukti nyatanya adalah syair pujian
Candrakirti dan Nagarjuna pada Tara yang saat ini beberapa masih ditemukan versi Sansekertanya.
Nama Dewi Tara baru ada di kitab-kitab (Hindu) Purana yang muncul belakangan seperti Brahmanda Purana (400 M) dan Agni Purana dan kitab-kitab Tantra Hindu seperti Tararahasyavrttika (1630 M),
Tarabhaktisudharnava (1680 M), Rudrayamala Tantra (1300 M) dan Brahmayamala Tantra (abad 9 M).
Tara dalam agama Hindu pertama kali muncul pada abad 6 M dengan munculnya pemujaan terhadap sepuluh dewi yang disebut sebagai Mahavidya.
Kitab-kitab Hindu yang berkenaan dengan Tara juga menunjukkan pengaruh agama Buddha seperti: kitab Hindu Tara-tantra (abad 6 – 8 M) yang mengaitkan nama Buddha Aksobhya dengan Tara dan Buddha
sebagai Bhairava agung, kitab Hindu Tantra-sara (1580 M) menyebutkan bahwa rupang Buddha Aksobhya menghiasi mahkota Tara dan dipengaruhi oleh pancamudra yang dibentuk oleh Buddha
Pancadhyani. Mahacinacara-sara Tantra (abad 6 M / 500 M) juga menghubungkan Buddha dengan pemujaan Tara, yang mana sang tokoh dalam kitab Tantra Hindu tersebut mempelajari pemujaan Tara Devi dari Sang Buddha.
Kitab Hindu seperti Mahacinacara-sara Tantra,Tara-tantra, Rudrayamala dan lain-lainnya menyebutkan seorang bernama Vasistha pergi ke Maha-cina (Himalaya, Tibet, Tiongkok) untuk mendapatkan pengetahuan tentang Tara dari Buddha, yang menurut Dewi Tara sendiri merupakan orang yang paling paham akan pemahaman
dan praktik puja terhadap Tara. Pernyataan ini tampaknya menimbulkan hipotesa bahwa pemujaan Tara berasal dari Tibet, namun fakta historis tidak mendukungnya karena tidak adanya bukti-bukti nyata yang ditemukan dan peneliti seperti Rolf A Stein juga turut menolaknya.
Memang unik untuk melihat bahwa naskah-naskah Tara yang Hindu malah menunjukkan banyak kaitan dengan agama Buddha, sehingga dengan mudah dapat disimpulkan bahwa pemujaan Tara ini asalnya adalah Buddhis. Namun dari kesemuanya itu ada perbedaan mencolok antara Tara dalam agama Hindu dan Buddha. Tara dalam paham Hindu berwujud galak dan menyeramkan sedangkan Tara dalam agama Buddha lebih sering digambarkan dengan wujud yang damai, cantik dan penuh dengan welas asih.

Kisah Putri Jnanacandra

Menurut Taranatha, dalam catatannya tentang sejarah kitab Sarva-tathagata-matr-taravisvakarma- bhava Tantra atau singkatnya Tarabhava Tantra, Bodhisattva Tara dikisahkan pernah terlahir sebagai Putri Jnanacandra pada masa Buddha Dundubhishvara. Selama berjuta-juta tahun sang putri memberikan persembahan pada Buddha
tersebut dan para Sangha yang terdiri atas para Shravaka dan para Bodhisattva. Akhirnya, ia berhasil memunculkan Batin Pencerahan Bodhicitta.
Setelah itu, beberapa bhiksu memberitahunya, “Karena akar dari kebajikan ini, jika engkau berdoa dengan tubuhmu saat ini, berharap untuk menjadi seorang laki-laki dan mempertunjukkan banyak tindakan yang sesuai dengan Ajaran, maka tubuhmu akan dapat berubah [menjadi laki-laki]. Itulah yang seharusnya engkau lakukan.” Terkejut mendengar ucapan para bhiksu, lantas sang putri berdiskusi
dengan mereka. Akhirnya, dengan nada yang penuh dengan ketegasan dan semangat, Putri Jnanacandra berkata:
“Di dalam hidup ini tidak ada pemisahan antara laki-laki dan perempuan, tidak ada aku, tidak ada diri dan tidak ada kesadaran. Melekat pada label ‘pria’ atau ‘wanita’ tidaklah ada intinya, melainkan
pikiran duniawi yang jahat dan sesat.” Dan kemudian ia berikrar:
“Banyak yang ingin untuk mencapai Samyaksambodhi dalam tubuh seorang pria, namun tidak ada yang berbuat untuk kesejahteraan semua makhluk dalam tubuh seorang wanita. Maka, hingga samsara kosong, aku akan bertindak demi kesejahteraan semua makhluk dalam tubuh seorang perempuan.”
Kemudian selama berjuta-juta tahun, ia terlahir dan terlahir kembali sebagai putri di lingkungan kerajaan dan akhirnya berhasil mencapai tingkatan Anuttpatika Dharma-kshanti (tingkat Bodhisattva ke-8) merealisasikan meditasi “Menyelamatkan Semua Makhluk Hidup”. Dengan kekuatan dari meditasi ini, setiap pagi sebelum makan pagi, Ia
membebaskan jutaan makhluk hidup dari samsara.
Dari tindakannya inilah, Ia mulai dipanggil dengan sebutan ‘Tara’ seperti yang diramalkan oleh Buddha Dundubishvara: “Selama engkau memanifestasikan Anuttara Samyaksambodhi, engkau hanya akan
dikenal dengan nama Dewi Tara.”
Di kalpa berikutnya yaitu Vibuddha, Tara berikrar di hadapan Buddha Amoghasiddhi untuk melindungi semua makhluk di sepuluh penjuru alam semesta dari bahaya maupun Iblis Mara. Setiap harinya selama 95 kalpa lamanya, ia berkonsentrasi dalam Samadhi “Menaklukkan Semua Mara” dan membimbing beratus-ratus miliar pemimpin makhluk hidup dalam dhyana dan setiap sorenya menaklukkan satu miliar Mara Parinimitavasavartin.
Kemudian pada Kalpa ‘Tak Terhalangi’, seorang bhiksu bernama ‘Cahaya Suci Bersinar’ yang telah mencapai tingkat-tingkat kesucian menerima abhiseka dari para Buddha di sepuluh penjuru dan menjadi Bodhisattva Avalokitesvara. Cahaya dari semua Buddha menyatu menjadi cahaya welas asih dan cahaya kebijaksanaan, yang kemudian
bersatu dan membentuk Tara. Ia muncul dari hati Avalokitesvara, memenuhi kehendak semua Buddha dan kemudian melindungi dan menyelamatkan para makhluk dari delapan sampai sepuluh macam
ketakutan dan mara bahaya.
Pada kalpa Mahabhadra, Tara telah mencapai tingkatan ‘Tak Tergoyahkan’. Tara kemudian terus melatih diri dan pada kalpa Asanka, Ia mendapatkan abhiseka dari para Buddha dari 10 penjuru, yaitu mencapai keBuddhaan Sempurna (Samyaksambuddha). Sejak saat itu Tara menjadi Ibu dari para Buddha (Sarva-buddha-mata). Tara memiliki 32 tanda major dan 60 tanda minor seorang Samyaksambuddha, yang tentu tidak hanya dimiliki oleh seorang Samyaksambuddha pria.
Akhirnya, pada masa Bhadrakalpa ini, Avalokitesvara terlahir di bumi ini di Gunung Potalaka. Avalokitesvara mengajarkan sepuluh juta Tantra dari Bodhisattva Tara. Tantra-tantra tersebut kemudian diajarkan kembali oleh Guru Agung kita Buddha Sakyamuni, seperti yang disebutkan dalam komentara Tara Tantra, Dakiniguhya-
bindu: “Ajaran-ajaran Tantra diajarkan oleh Sakyasimha (Sakyamuni) di puncak Gunung Potala (Putuo Shan).”
Buddha Sakyamuni pergi menuju Gunung Potala memberikan inisiasi Tara dan ajaran Vajrayana pada para makhluk hidup yang jumlahnya tak terbatas.
Tara Tantra kemudian diteruskan pada Bodhisattva Vajrapani. Praktik Tara Tantra dilakukan di Alakavati dan alam para Vidyadhara (salah satu makhluk alam dewa). Di dunia manusia, Vajrapani kemudian beremanasi menjadi Raja Indrabhuti dan menuliskan semua Tara Tantra dalam bentuk kitab-kitab. Setelah itu, praktik Tara tersebar luas di kalangan yogi dan yogini di Jambudvipa (India).
Buddha membabarkan Sarva-tathagata-matrtara-visvakarma-bhava Tantra di Surga Tusita pada para dewa dan Bodhisattva, beliau juga
membabarkan Sutra Aryatara-astaghora-tarani (Sutra Tara yang Menyelamatkan dari 8 Ketakutan) di Gunung Meru.

Guanyin Wanita Berjubah Putih adalah Tara

Di Tiongkok, tampaknya beberapa orang berpikir bahwa Tara adalah satu bentuk Avalokitesvara /Guanyin, salah satu dari beberapa perwujudan(emanasinya). Identifi kasi Tara dengan Avalokitesvara/ Guanyin ini sangat jelas (terlihat) dalam satu perwujudan Guanyin yang paling terkenal, yaitu Guanyin Berjubah Putih (Baiyi Dashi). Nama Tionghoa dari perwujudan Guanyin ini tampaknya adalah terjemahan langsung dari Sansekerta Pandaravasini (ia yang berjubah putih), salah satu sebutan bagi Tara Putih. Wujud wanita Guanyin ini diperkenalkan di Tiongkok kira-kira pada abad ke-8 M dan menjadi sangat populer di abad 10 M. (The Goddesses Mirror oleh David R.Kinsley)
Belakangan ini timbul hipotesa bahwa Guanyin di Tiongkok sebenarnya adalah Dewi Tiongkok kuno yang kemudian diadopsi oleh agama Buddha. Namun ini sesungguhnya tidak benar sama sekali. Penting untuk diketahui bahwa di India dan Nepal, di tanah kelahiran Sang Buddha sendiri, telah dikenal sosok perempuan dari Avalokitesvara. Siapakah sosok perempuan Avalokitesvara itu? Beliau adalah Tara Bodhisattva dan Pandaravasini. Setelah masuk ke Tiongkok, sosok perempuan Avalokitesvara itu mengalami adaptasi dan kemudian
diadopsi oleh berbagai agama di Tiongkok.
Banyak sekali sejarawan ternama yang mengatakan bahwa Pandaravasini dan Tara di India adalah pelopor adanya Baiyi Guanyin
(Guanyin Wanita Berjubah Putih) di Tiongkok, di antaranya adalah
H.Maspero, Kenneth Chen dan Profesor Lokesh Chandra.
Henri Maspero dan Kenneth Chen mengatakan bahwa Baiyi Guanyin
adalah Pandaravasini - 白衣女神 (berjubah putih) dan juga wujud
Tionghoa dari Tara Putih - 白多 (Sitatara), consort dari Avalokitesvara dan merupakan Bodhisattva yang sangat penting dalam tradisi Tibetan.
Ketika Pandaravasini pertama kali diperkenalkan ke Tiongkok pada
masa Dinasti Tang, menurut pandangan ini, Ia berubah menjadi
Dewi Kesuburan karena Pandaravasini termasuk dalam Garbhadhatu
(Mandala Rahim). Kata-kata rahim tersebut membuat Pandaravasini
juga dijadikan sebagai Dewi Pemberi Anak oleh masyarakat Tiongkok,
yang dikenal dengan nama Songzi Guanyin.
Baiyi Guanyin pertama kali diperkenalkan ke Tiongkok melalui
teks Dharani Tantrik yaitu Tuoluoni Zaji (Dharani Lain-lain) yang
diterjemahkan pada abad ke-6 M (masuk dalam daftar terjemahan
Dinasti Liang, tahun 502-557 M). Seperti dalam teks-teks Tantra yang
membutuhkan visualisasi, perwujudan Baiyi Guanyin digambarkan
dengan jelas dalam teks yang berasal dari abad ke-6 M tersebut. Wujud Baiyi Guanyin dalam teks Tuoluoni Zaji tersebut, tanpa menyebutkan gender, adalah memakai jubah putih dan duduk di atas teratai dengan memegang teratai (bukan dahan willow) dan tangan lainnya memegang vas (botol/kundalika). RambutNya disanggul ke atas. Teks Tantrik ini diduga yang menjadi basis dari perwujudan Baiyi Guanyin.
Pandaravasini memiliki arti “Yang Berjubah Putih”. Dalam konsep
Mahayana dan Tantra, Beliau adalah prajna dari Buddha Amitabha,
salah satu dari 5 Prajna dari Buddha Dhyani. Bersama-sama dengan
Amitabha dan Avalokitesvara, mereka adalah Sambhogakaya dari
Buddha Sakyamuni. Lantas bagaimanakah Pandaravasini ini dihubungkan dengan Avalokitesvara dan Tara?
Dalam Mahavairocana Sutra/Tantra disebutkan bahwa Pandaravasini
berada dalam Garbhadhatu Mandala (Mandala Rahim). Beliau duduk
berdekatan dengan Tara Bodhisattva. Yang menarik adalah, bahwa
Pandaravasini dan Tara terletak dalam barisan kelompok Avalokitesvara dalam Mandala tersebut. Pandaravasini adalah Ibu dari keluarga Teratai (salah satu keluarga Buddha) dan pemimpin dari keluarga Teratai tersebut adalah Avalokitesvara. Ia diberi nama “Kediaman Putih” (Baizhu) karena Ia tinggal di teratai yang putih suci. Tara juga mendapat panggilan ‘Avalokitesvara Sang Ibu’. Dengan demikian antara Avalokitesvara, Tara dan Pandaravasini terdapat keterkaitan yang amat erat.
“Dalam Garbhadhatu Mandala, Bodhisattva ‘Kediaman Putih’, ‘Tubuh
Putih’ dan ‘Tubuh Putih Maha Terang’ (Daming Baishen) yang berada di barisan Guanyin, semuanya berjubah putih dan dapat disebut Baiyi. Putih adalah simbol dari pikiran yang tercerahkan, yang ‘melahirkan’ semua Buddha dan Bodhisattva. Oleh karena itu para Bodhisattva perempuan yang berada dalam barisan Guanyin kebanyakan berjubah putih, karena mereka adalah Ibu dari Buddha dan Bodhisattva.”
Dalam Mahavairocana Sutra yang diterjemahkan ke dalam bahasa
Tionghoa dan Tibet pada abad ke-7-8 M dikatakan bahwa Bodhisattva
Tara adalah emanasi Avalokitesvara (Guanyin) yang juga memakai jubah putih: “Di kananNya (Avalokitesvara) duduklah Sang Dewi, yang dikenal dengan nama Tara agung. Ia sangat berkebajikan dan mampu melenyapkan ketakutan. Warna tubuhnya hijau muda dengan wujud yang beraneka ragam.
Ia mengambil wujud sebagai seorang remaja perempuan. Di tanganNya yang saling menutup, dibawanyalah sebatang teratai biru. Ia dikelilingi oleh cahaya dan memakai jubah putih.”
Buddhaguhya (sekitar 700 M), seorang Bhiksu Vajrayanis yang berdiam di India dan menerima ajaran Mahavairocana dari Lilavajra, memberikan komentarnya mengenai Tara dalam Mahavairocana Sutra: “Memakai jubah putih: Ini menyimbolkan keagunganNya. Seperti tubuh seseorang yang ditutupi dan menjadi tampak sederhana oleh pakaian, maka dari itu keagungan adalah simbol kesederhanaan, karena itu Ia teragungkan. Putih menyimbolkan kesucian dari keagungan. Mengapa Ia teragungkan? Karena keagungan adalah kualitas dari para Bodhisattva.”
Dalam Sutra Mahavairocana tersebut juga disebutkan tentang
Pandaravasini yang berpakaian putih: “Dekat dengan Tara, yang bijak
seharusnya menggambar Pandaravasini. Ia memiliki rambut ikal yang dijalin dan memakai pakaian berwarna putih. Di tanganNya Ia memegang setangkai bunga teratai.”
Buddhaguhya memberikan komentarnya: “Pandaravasini: Namanya
memiliki arti ‘Ia yang berdiam dalam putih’ atau ‘Ia yang memakai jubah putih’ karena Ia berada di kesucian dharmadhatu. Ia digambarkan dekat dengan Tara dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa Dewi Tara tidak hanya
melakukan tindakan penyelamatan bagi semua makhluk hidup, tetapi Ia juga berlindung pada kesucian dharmadhatu.” Dalam kitab Manjushri mulakalpa (abad 2 – 4 M) juga disebutkan berbagai dewi emanasi yang menemani Avalokitesvara, di antaranya Pandaravasini dan Bhrkuti Tara yang kemudian dilanjutkan dengan deskripsi terhadap Tara: “Dewi yang merupakan Welas asih dari Aryavalokitesvara, [yaitu] Arya-Tara, dihiasi oleh berbagai ornamen.”
Seperti kita tahu, Bodhisattva Tara merupakan fi gur perempuan yang
paling terkenal di kalangan Buddhis Vajrayana. Pemujaan-Nya sangat popular baik di India, Nepal, Tibet ataupun di tanah air kita sendiri yaitu Indonesia.
Ia berikrar untuk mencapai Ke-Buddhaan dalam wujud seorang perempuan dan merupakan simbol dari aktivitas semua Buddha. Ia terlahir dari air mata Avalokitesvara.
Tara Putih terlahir dari air mata yang terjatuh dari mata kiri, sedangkan Tara Hijau dari mata kanan Avalokitesvara. Tara sendiri adalah consort dan prajna dari Avalokitesvara, menandakan bahwa pada hakekatnya Tara dan Avalokitesvara adalah sama, demikian juga dengan Pandaravasini.
Sekte Shingon di Jepang mengenal delapan manifestasi Guanyin, dua di antaranya adalah Pandaravasini dan Tara. Ini berasal dari Sutra
Mahavairocana, di mana telah disebutkan di atas bahwa Pandaravasini dan Tara berada dalam barisan kelompok Avalokitesvara.
Bahkan dalam adalah Baiyi Dashi [Guanyin] Wu Yinxin Tuoluoni Jing (Pancamudra Dharani Pandaravasini Mahasattva [Avalokitesvara] Sutra), yang merupakan sebuah Sutra mengenai Guanyin perempuan yang berbaju putih, terdapat mantra dari Bodhisattva Tara yaitu: Om Tare Tuttare Ture Svaha.
Gunung Putuo (Potala) di Tiongkok adalah tempat suci bagi Guanyin,
yang berwujud wanita berpakaian putih dan ini bukanlah tanpa dasar
sama sekali. Sejarawan Taranatha mengisahkan bahwa di India ada
dua yogi bernama Buddhasanti dan Buddhaguhya yang pergi ke gunung Potala. Di sana Arya-Tara Bodhisattva membabarkan Dharma pada para naga dan Bodhisattva Bhrkuti, saudara perempuan Tara mengajar para asura dan yaksa, sedangkan di puncak gunung Bodhisattva Avalokitesvara sedang berdiskusi dengan Vajrapani yang akhirnya menyimpulkan bahwa kebajikan Tara adalah yang paling baik untuk melenyapkan penderitaan para makhluk. Kemudian Avalokitesvara membabarkan 108 nama Tara atau Arya-tarabhattarika-namastottarasataka Stotra, yang menyebutkan bahwa Arya Tara berada di Gunung Potalaka (Putuo Shan).

Tara dan Nyai Rara Kidul

Di pulau Jawa pada zaman dahulu, Bodhisattva Tara dipuja dengan hebat dan agung di Candi Kalasan,Jawa Tengah. Konon dulu Guru Dharmakirti di Svarnadvipa (Sumatra) dapat terus menerus melihat
wajah Dewi Agung Tara. Bodhisattva Tara pertama-tama dikenali sebagai pelindung navigasi dan salah satu aspek dari Aryasthamahabhaya Tara adalah pelindung dari bahaya air. Warna hijau juga sering dikaitkan dengan Tara, yang bermakna “kesegaran
atau aktivitas”. Wujud tersebut dinamakan sebagai Vasya-Tara, yang dulu rupangnya berada di Candi Kalasan. Dari ciri-ciri di atas, kita tahu bahwa Kanjeng Ratu Kidul juga memiliki kedua aspek tersebut yaitu samudra (navigasi/air) dan warna hijau. Secara mengejutkan pula, Ratu Kidul tampak memiliki teratai biru wijayakusuma, mirip seperti
Bodhisattva Tara yang memegang teratai biru (utpala) juga.
Berbagai kemiripan memang dapat kita temukan dalam diri Arya Tara dan Ratu Kidul. Bodhisattva Tara juga dikenal dalam wujud nagini yang bernama Janguli, sedangkan di kalangan masyarakat Jawa, Ratu Kidul dikenal sebagai dewi ular naga (nagini). Kemungkinan Kanjeng Nyai Rara Kidul ini berasal dari dua penggabungan aspek dari Durga dan Dewi Sri. Dan menarik pula, bahwa Tara Bodhisattva memanifestasikan dirinya sebagai Parnashavari yang memiliki aspek mirip Durga sekaligus sebagai Vasudhara yang tak lain adalah Dewi Sri. Maka dari itu Tara dapat dikaitkan dengan aspek damai dan keras
dari Nyai Rara Kidul. Menurut Koentjaraningrat, sebutan “Nyai” sendiri merujuk pada jajaran kedewataan pada masa Hindu-Buddha.
Nyai Rara Kidul diberi sebutan Ratu Kidul karena ia adalah pemimpin para dewa-dewi, peri-peri dan setan-setan. Istananya berada di dasar Samudra tepat di pantai selatan Jawa Tengah. Ia adalah penguasa arah mata angin bagian selatan, sedangkan penguasa bagian utara yang bertahta di hutan Krendawahana adalah dewi Sanghyang Pramoni(Durga). Bodhisattva Tara sendiri dikenal sebagai Bodhisattva yang dapat menaklukkan semua ghana(kurcaci, pengikut Siva), vetala (vampir/mayat hidup) dan yaksha, bahkan iblis Mara (kematian);
pun juga dipuja oleh para gandharva dan makhluk-makhluk di atas.
Simbolisasi Tara menaklukkan iblis Mara ini mungkin kemudian berpengaruh terhadap Nyai Rara Kidul yang terus-menerus menjadi muda kembali.
Rara Kidul dapat menjadi tua ataupun muda,demikian juga Tara dapat bermanifestasi menjadi perempuan tua ataupun muda. Lara atau Rara berarti seorang gadis, sehingga dapat disimpulkan bahwa ikonografi Ratu Kidul seharusnya berperawakan perempuan muda, mengingatkan pada wujud fisik Tara sebagai gadis berumur 16 tahun.

Kesimpulan
Peran wanita dalam perkembangan suatu agama tidak dapat diremehkan. Kemuliaan perbuatan bajik dan pencapaian pencerahan tidak memandang jenis kelamin. Bahkan inti ajaran para Buddha (maître karuna) dilambangkan sebagai cinta kasih seorang ibu pada anaknya yang tunggal yang kemudian diwujudkan dalam diri Bodhisattva Tara yang selalu dengan sigap menolong para makhluk dan memeluk mereka dalam pelukan welas asih dari seorang Ibu.
Welas asih Ibu Tara tak mengenal batas dan terbukti telah banyak para makhluk yang telah ditolongnya di bumi Jambudvipa ini. Dengan
memakai jubah putih yang anggun, Beliau mengayomi serta menjawab doa-doa segenap umat Buddhis Tiongkok dan Timur Jauh selama berabad-abad lamanya. Dengan welas asihnya yang besar, beliau bertindak sebagai seorang Ibu bagi bangsa Tibet. Bertahta di candi yang terletak di Jawadvipa, Beliau melindungi seluruh Nusantara.
Bersemayam di dalam pencerahan agung, Ibu Tara melindungi semua makhluk di manapun mereka berada, bagaikan “bintang” yang memberikan cahaya, menuntun kita untuk keluar dari samudra kegelapan.

Pustaka Utama:
Willson, Martin. In Praise of Tara: Songs to the Saviouress
Bhattacharyya, Benoytosh. An Introduction to Buddhist Esoterism
Praharaj, Gitani. Tara
Bhattacharya, Bikas Kumar. Tara in Hinduism: Study with Textual and Iconographical Documentation
Kinsley, David. Tantric visions of the divine feminine:
the ten Mahāvidyās
Donaldson, Thomas E. Iconography of the Buddhist
Sculpture of Orissa: Text
Regmi, Jagdish Chandra. Goddess Tara: A Short Study
Weidner, Marsha Smith. Latter Days of the Law:
Images of Chinese Buddhism
Teoh Eng Soon. Guan Yin
Chunfang, Yu. Miracle Tales and the Domestication of Kuanyin
Hodge, Stephen. Maha-vairocana-abhisambodhi